![]() |
| [Kegiatan Hafshah mengenal Makhluk Hidup] |
Hari ini saya kembali belajar bersama putri sulung saya, Hafshah. Tema belajar minggu ini adalah Makhluk Hidup. Sebenarnya, saya sedikit kesulitan mencari cara untuk menyampaikan materi ini tanpa membuatnya bingung.
Saya memulai kegiatan belajar pada siang hari karena pagi harinya kami mengawali aktivitas dengan jalan sehat. Hehe. ๐
Lalu, bagaimana saya memulainya?
Saya tidak langsung menjelaskan tentang makhluk hidup dan benda mati. Sebagai permulaan, saya memberikan beberapa gambar untuk diwarnai. Gambar tersebut berisi hewan dan lingkungan sekitarnya. Sambil Hafshah mewarnai, saya mulai masuk ke dalam pembelajaran. Saya menjelaskan bahwa kupu-kupu adalah makhluk hidup, sedangkan batu bukanlah makhluk hidup.
Bagaimana responsnya?
Awalnya, dia sempat terdiam. Namun, tidak lama kemudian dia mulai memberikan contoh sendiri. "Sapi benda hidup, kan, Bun?"
Saya pun mulai mengenalkan ciri-ciri makhluk hidup dan benda mati dengan bahasa sederhana. Ketika saya menyebutkan bahwa tumbuhan termasuk makhluk hidup, dia langsung bersikeras bahwa tumbuhan adalah benda mati. Alasannya sederhana, karena tumbuhan tidak bisa berjalan.
Saya mencoba menjelaskan perlahan mengapa tumbuhan tetap dikatakan sebagai makhluk hidup. Setelah mendengarkan penjelasan saya, dia mengangguk seolah sudah memahami maksudnya.
Alhamdulillah, hari itu ada dua kegiatan yang berhasil kami lakukan, yaitu mewarnai dan mengenal perbedaan benda hidup dan benda mati melalui contoh-contoh yang ada di sekitar rumah.
Apakah berhasil? Sejauh ini, alhamdulillah.
Namun, ada satu hal yang menjadi evaluasi saya, yaitu kembali belajar mengontrol emosi. Toddler usia dua tahun yang mulai penuh drama terkadang membuat suasana belajar menjadi kurang kondusif. Akibatnya, saya pun sedikit terpancing emosi. Sepertinya, bukan hanya anak yang perlu belajar mengelola perasaan, tetapi ibunya juga. Hehe.
Kegiatan belajar tentang makhluk hidup ternyata tidak berhenti pada hari itu saja. Ketika tulisan ini saya lanjutkan, Hafshah sudah semakin mampu membedakan benda hidup dan benda mati.
Awalnya, dia masih menganggap sepeda motor, mesin cuci, dan kipas angin sebagai makhluk hidup. Alasannya karena benda-benda tersebut bisa bergerak dan seolah-olah bisa hidup. Saya kembali menjelaskan secara perlahan tentang ciri-ciri makhluk hidup dan memberikan contoh yang lebih dekat dengan kesehariannya.
Alhamdulillah, sekarang dia sudah mulai memahami perbedaannya dan tidak lagi keliru ketika mengelompokkan benda-benda tersebut.
Selain mengenal makhluk hidup, saya juga menyelipkan pembelajaran tentang perasaan. Kami belajar mengenali empat perasaan, yaitu takut, marah, sedih, dan senang.
Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, belakangan ini Hafshah cukup sering berteriak. Penyebabnya belum bisa saya pastikan. Entah karena kehadiran adiknya, atau mungkin ada hal lain yang belum bisa dia ungkapkan.
Karena itu, saya mencoba mengajaknya mengenali perasaannya sendiri. Ketika dia senang ataupun marah, saya berusaha menenangkannya terlebih dahulu. Setelah itu, saya bertanya tentang apa yang sedang dia rasakan dan apa yang menjadi penyebabnya.
Ternyata, cara sederhana ini memberikan dampak yang cukup baik. Dia terlihat lebih tenang dan frekuensi teriakannya sedikit berkurang. Saya jadi belajar bahwa terkadang anak tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Ada kalanya mereka hanya perlu dibantu untuk mengenali dan menyampaikan apa yang sedang dirasakannya.
![]() |
| [Latihan Pra Membaca Hafshah] |
Selain dua kegiatan tersebut, saya juga tetap menyelipkan pembelajaran pra-membaca. Bagaimana kemampuan Hafshah sekarang?
Alhamdulillah, dia sudah hafal huruf alfabet, baik huruf besar maupun huruf kecil. Dia juga mulai mampu menuliskan huruf-huruf tersebut, meskipun bentuk dan urutannya masih belum beraturan. Beberapa huruf bahkan sudah bisa ditebaknya ketika saya memberikan contoh nama benda yang berkaitan dengan huruf tersebut.
Sebenarnya, ada beberapa perkembangan yang cukup di luar dugaan saya. Namun, saya tetap mengajarkannya dengan santai dan mengikuti minatnya. Saya tidak ingin terlalu memaksakan sesuatu yang belum menjadi kebutuhannya saat ini. Hal terpenting adalah dia senang dan belajar menjadikannya pengalaman yang membahagiakan.
Minggu depan, saya berencana kembali mengulang pembelajaran huruf vokal. Jadwal kegiatannya pun sudah mulai saya susun.
Belakangan ini saya cukup terinspirasi dari beberapa video Instagram yang berseliweran tentang jadwal belajar anak sebelum masuk sekolah. Menurut saya, konsepnya bagus. Anak memiliki kegiatan yang lebih terarah, sementara orang tua juga mempunyai gambaran tentang apa yang bisa dikenalkan setiap harinya.
Namun, bagi saya, jadwal tersebut tidak harus saklek dan semuanya wajib diselesaikan. Namanya juga anak-anak, ada kalanya mereka bersemangat mengikuti kegiatan, tetapi ada kalanya juga mereka lebih tertarik melakukan hal lain.
Tidak apa-apa. Jadwal dibuat sebagai panduan, bukan sebagai tuntutan.
Pada akhirnya, saya ingin Hafshah menikmati proses belajarnya. Saya ingin dia tumbuh dengan rasa ingin tahu, senang mencoba hal baru, dan tidak merasa bahwa belajar adalah sesuatu yang membebani.
Sebab, dalam perjalanan ini, bukan hanya Hafshah yang sedang belajar. Saya pun sedang belajar menjadi ibu yang lebih sabar, memahami, dan mampu membersamai proses tumbuh kembangnya.
Semangat membersamai anak. ๐
![]() |
Rangkuman pembelajaran mengenal Makhluk Hidup Hafshah, silahkan klik link di bawah ini. Free.









