Bagi saya mengajar adalah sesuatu yang saya cintai. Saya mengajar, berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta berusaha menjadi teladan untuk mereka. Ketika menjadi seorang guru, menurut saya menjadikan diri ini lebih berhati-hati. Kenapa? Guru adalah seseorang untuk ditiru oleh siswa-siswa.
Sudah lama sekali perasaan ini tidak muncul. Tepatnya kemarin mungkin adalah puncak dari segala rasa lelah yang selama ini dipendam. Semenjak anak-anak sudah bisa terlelap dengan mudah dan cepat, saya mulai mengembalikan diri saya. Saya mulai membaca novel, mulai mengutak-atik blog, dan mulai menulis kembali. Termasuk saya mulai mempersiapkan pembelajaran setiap akan masuk kelas. Apalagi sekarang saya sedang kesenangan dengan Al. Hehe.
Saya merasa tidak dihargai.
Saya lelah dan marah. Saya berekspektasi terlalu tinggi, namun fakta di lapangan berbeda. Saya lupa untuk introspeksi diri barangkali. Namun hal terpenting adalah saya merasa kecewa, sungguh. Saya berpikir ketika kepintaran seseorang itu akan melahirkan karakter yang baik. Ternyata zonk. Pintar tapi tidak berkarakter.
Saya sudah menyiapkan materi jauh hari, menyusun materi seefisien mungkin. Berharap mereka tertarik dan tidak bosan. Nyatanya, tidak seperti yang saya harapkan. Ribut dan banyak omong. Saya sudah berusaha untuk mensiasatinya dengan memanggil nama mereka yang tidak fokus, agar kembali fokus kepada saya. Pada akhirnya, saya merasa kelelahan. Puncaknya adalah ketika saya menegur salah seorang mereka, justru kata-kata kasar yang saya peroleh. Sedih rasanya. Tidak pernah sesakit ini rasanya.
Saya bertanya-tanya pada diri saya: Apa yang salah dengan saya? Banyak hal yang saya temukan. Saya mengajar kimia, mengenal nama mata pelajaran itu saja sudah membuat mereka kesulitan. Saya berusaha untuk santai dan tidak kaku di kelas. Saya terbuka dengan mereka semua, tidak pernah terpikir oleh saya untuk pilih kasih. Karena diabaikan oleh guru terasa sangat menyakitkan, saya pernah mengalaminya dulu ketika SMP. Kiranya sikap saya yang seperti itu, disalahgunakan oleh mereka.
Saya tidak bisa seperti ini terus menerus. Saya guru mereka dan saya punya hak kendali terhadap mereka. Minggu depan terasa berat. Saya tidak dendam, tapi mengingat dengan baik. Tidak akan diperoleh sikap yang sama setelah kejadian itu. Istilahnya adalah selesai sudah, dan biarkan saya diam dengan diri saya sendiri. Saya akan seperti biasa dengan mereka. Datang ke kelas, mengajar, memberi latihan, hingga mengawasi mereka.
Hanya saja saya akan memberikan batasan lebih besar kepada mereka lagi. 1) Saya tidak akan tertawa bersama mereka selama di kelas lain hal kalau di luar kelas 2) Saya tidak akan lagi menanggapi gurauan mereka 3) Saya tidak akan mencoba mencairkan suasana 4) Saya akan fokus dengan materi tetapi tetap mendidik mereka, ketika mereka salah tetap saya tegur, tapi hanya sebatas itu 5) saya akan bertindak ketika mereka ribut yaitu mengusir mereka dari kelas, saya tidak butuh mereka, dan saya tidak ingin lingkungan kelas yang racun, 6) Sekedarnya sebagai guru, tidak disukai tidak apa-apa, dibenci pun tidak masalah, toh saya mengajar bukan untuk disukai dan dibenci, namun karena saya menyukai pekerjaan ini, 7) Saya hanya perlu bersikap bodo amat dan tidak mau tau seluruh urusan mereka.
Mereka tidak pernah ingin mengubah nasib, itulah yang tampak dengan saya.
Kenapa saya selalu marah, selalu tidak terima yang tidak sungguh ketika belajar, dan selalu marah ketika ada yang berbuat curang? Karena hidup saya tidak menyenangkan yang terlihat. Motivasi saya selalu: Saya tidak ingin hidup seperti ini lagi. Maka saya berjuang untuk terus maju, mengubah keadaan, dan mengubah nasib. Allah tidak akan pernah mengubah takdir, jika tidak umatnya yang melakukannya. Takdir telah tertulis, namun usaha akan selalu dilihat oleh Yang Maha Melihat. Entah bagaimana cara menyadarkan mereka tentang hal ini, bahwa kita perlu bersungguh-sungguh terhadap sesuatu.
Harusnya saya sadar ya bahwa mereka tidak akan pernah mendengar apa-apa yang disampaikan guru. Namun, suami saya selalu mengatakan: walaupun mereka tidak mendengarkan, terpenting kita telah menyampaikan, karena semua itu adalah tugas kita sebagai guru. Sebegitu berat menjadi pendidik ini ya.
Bagaimana perasaanmu sekarang?
Entahlah. Sebenarnya sudah lebih baik, buktinya saya masih semangat menyusun rencana pembelajaran esok hari. Ya begitulah guru. Hanya saja saya mengingat.... Setelahnya, saya lalui segalanya lagi, apapun yang terjadi. Tidak boleh gentar. Bismillah. Saya pasti bisa menghadapinya.






