Pages

March 26, 2016

[Jurnal] Sudahkah "Teko" Itu Terisi Penuh?






Sudah berapa banyakkah “teko” kalian terisi?
Sudahkah penuh? Atau justru sebaliknya?

Akhir-akhir ini saya kesulitan dalam menulis. Bukan merangkai kata yang menjadi kendalanya, tetapi ide seperti apa yang hendak saya tulis. Itulah masalahnya, saya tidak tahu cerita seperti apa yang bisa saya tulis, atau alur seperti apa yang hendak saya utarakan. Saya tiba-tiba kehilangan semua itu. Saya juga tidak tahu, tiba-tiba pikiran saya buntu. Bahkan, sekedar untuk berimajinasi saya tidak bisa melakukannya sekarang. Ada apa? Apa yang salah dengan semua itu? Tadinya, saya berpikir bahwa istirahatlah yang dibutuhkan untuk memulihkan semua itu. Namun, justru pikiran saya tidak stabil setelah istirahat. Saya tahu, bahwa menulis lah yang membuat pikiran saya jernih. Kenapa? Karena saya menyampaikan apa yang saya rasakan melalui tulisan. Dengan tulisanlah saya merasa lega.

March 21, 2016

[Review] Pelita: The Silence Songs #RahmiGusniarti

Judul : Pelita – The Silence Songs
Pengarang : Rahmi Gusniarti
Tahun terbit : Desember 2015
Penerbit : CV. Alif Gemilang Pressindo
Jumlah halaman : 330 halaman

Sinopsis
“Apis.. stop!” Ajaib! Instruksi itu menghentikan langkah Hafizd. Ia seolah disihir menjadi patung. Tubuhnya terpaku.
“Kalau kau lari, aku akan mengejarmu ke manapun kau pergi. Kalau kau berhenti, aku tak akan menyentuh atau memintamu untuk menyatakan cinta padaku. Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu Apis..” pinta Pelita. Hafizd memenuhi permintaan itu. Ia merasa lelah jika terus-terusan berurusan dengan Pelita. Hafizd membalikkan badan dan mendekati Pelita.
“Baiklah, aku akan menjawabnya. Tapi janji ya, jangan ganggu aku lagi!” Hafizd memberi syarat.
“Ya...ya.. ya.. ok!”
“Pertanyaannya, apakah kau mencintaiku?”
Matanya terbelalak, telinganya seolah ingin terlepas dari kepalanya. Lagi-lagi pertanyaan itu membuat ia bergetar.
“Astagfirullah.” Segera ia beristigfar.

March 15, 2016

[Cerpen] Pertemuan



Aku tidak pernah pergi dengan baik, beranjak dengan baik. Mungkin, itulah kelemahanku. Kehidupanku masih berputar-putar dengan ketidakpastian. Aku masih mengira-ngira, mengucapkan seandainya, lalu beranjak pada keinginan yang mustahil terwujud. Aku tidak tahu ini apa. Apa ini namanya menggantung harap, atau perasaan yang sepenuhnya belum berdamai? Entahlah. Aku berpikir bahwa waktu akan mengobati segalanya. Tetapi hingga detik ini, itu belum terjadi. Mungkin, waktu butuh bantuan dari yang lain, yaitu penjelasan.

Langkahku terhenti. Pandanganku tertuju pada satu arah. Aku melihatnya sibuk mencari keberadaan seseorang. Dia berbicara melalui ponselnya, sambil menunjuk arah yang berlawanan denganku. Apa yang dilakukannya di sini? Aku masih berada di posisiku, tanpa bergerak walau hanya selangkah. Aku tidak tahu, ini sudah begitu lama. Tetapi, jantungku tetap berdegup untuknya. Aku menghela napas, dan berniat tidak menghampirinya. Aku melihat ke arahnya lagi, dan pandangan kami bertemu. Langkahnya terhenti. Dia terkejut melihatku, sama halnya denganku. Dia menutup panggilannya dan pandangan kami masih bersitatap.

Aku ingin pergi, namun langkahku begitu berat. Aku ingin beranjak, namun hatiku terlalu bahagia bertemu dengannya. Aku melihatnya menghela napas...dan berjalan ke arahku. Satu langkah, dua langkah, dan langkahnya semakin cepat...lalu dia berlari.