Pages

December 17, 2015

[Wishlist Buku] Love Theft #Prisca Primasari

Judul : Love Theft #1
Pengarang : Prisca Primasari
Terbit : Desember 2015
Jumlah Halaman : 192 Halaman
Penerbit : Indie

Sinopsis
Frea Rinata gadis yang sangat payah di kampus. Sementara teman-temannya sudah melangkah jauh ke depan, dia tetap saja berjalan di tempat, minim prestasi, dan dipandang sebelah mata. Benar benar menyebalkan. Untunglah, dia punya kehidupan kedua yang lebih menarik, yang melibatkan seorang pemuda bernama Liquor. Atau setidaknya, pemuda yang "dipanggil" Liquor. Frea nyaris tidak tahu apa-apa tentangnya, kecuali bahwa pemuda itu sangat menarik, memiliki profesi yang tidak biasa, dan penuh misteri. Namun, jauh di dalam hati, Frea jatuh cinta padanya, meskipun tidak pernah mengakuinya. Sampai kapan Frea akan menyangkal perasaannya? Dan benarkah kehidupan keduanya semenarik yang dia pikirkan? Karena semakin lama, segala hal tentang Liquor semakin membuat dirinya frustrasi. Dan sangat khawatir.

October 12, 2015

[Serial Fiksi] Time #3


Sore ini, untuk kedua kalinya di hari ini aku menemukanmu lagi. Aku tidak tahu keberuntungan seperti apa yang kumiliki, hingga aku harus bertemu denganmu lagi. Aku bahagia, karena aku tersenyum melihatmu. Aku gugup, karena aku tiba-tiba salah tingkah saat melihatmu. Aku malu, akan sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Aku sungguh menginginkanmu, sedari dulu, tetapi jiwaku menolak akan hal itu. Alasannya, sekarang bukanlah waktu yang tepat. Biarlah, seperti ini dahulu.
Aku lebih menyukai dengan keadaan seperti ini. Perasaanku memang tertahan, namun jiwaku lebih tentram. Hatiku kadangkala memberontak, memaksa untuk mengatakan apa yang kurasakan, tetapi aku memilih diam. Karena ketakutan terbesarku adalah kehilanganmu dengan cara yang lebih menyakitkan. Aku hanya takut, saat kita saling mengenal dengan baik, mengetahui perasaan masing-masing, lalu semuanya berubah dan hilang. Semua itu menyakitkan untukku. Cukup melihatmu dari belakang, melihat setiap langkah kakimu dari jauh adalah sesuatu yang membahagiakan untukku. Karena aku butuh waktu, untuk menguatkan nyaliku untukmu.

Aku melihatmu duduk di trotoar depan fakultasku. Aku tidak tahu siapa yang kau tunggu, karena aku melihatmu sibuk melihat ke arah kiri dan kanan. Sesuatu mengusikku, kau terlihat cemas. Apa kau mempunyai masalah sekarang ini?

Kau tahu, aku tak mengalihkan pandanganku darimu. Padahal, tadinya aku hendak segera pulang, menyelesaikan tugas-tugas yang semakin menggunung. Tetapi saat melihatmu, kakiku tertahan. Aku memutuskan duduk tak jauh darimu, beberapa meter tepat di sampingmu. Aku menatap lurus ke jalanan, karena mataku tak berani melihatmu dengan posisi seperti ini. Aku takut, nantinya kau tiba-tiba melihat ke arah kanan, maka tepatlah mataku bertemu denganmu—seperti yang terjadi di bus tempo hari.

Ini sudah waktunya pulang. Senja sebentar lagi hadir, tetapi kenapa kau tak beranjak dari dudukmu? Siapa yang kau tunggu? Apakah seseorang yang teramat harus kau tunggu?

Haruskah aku menunggumu hingga seseorang yang kau tunggu itu datang? Hatiku ingin pergi, karena aku takut jika orang yang kau tunggu adalah bumerang untukku. Namun, aku ingin memastikan kau baik-baik saja. Jalanan kampus mulai sepi, dan orang-orang yang lalu lalang adalah laki-laki. Tidakkah itu cukup untuk mengkhawatirkanmu?

Sebentar lagi saja, dan semoga apa yang kulakukan tidak membuat patah perasaanku untukmu.
###

October 2, 2015

[Serial Fiksi] Time #2


“Hai”  Sapaan itu tak pernah sekalipun terucap di mulutku. Lidahku kelu, dan keinginan itu hanya tersimpan dalam hatiku. Aku tidak tahu keberuntungan seperti apa yang datang padaku. Hari ini—untuk kedua kalinya, setelah bertahun-tahun aku tak melihatmu, aku bertemu denganmu. Masih dengan cerita yang sama, kau menaiki bus yang sama denganku.

Aku tersenyum. Sungguh senyum itu bukan sengaja kubuat, tetapi saraf sensorikku tiba-tiba merespon seperti itu. Aku melihatmu mengenakan baju kemeja biru muda, dengan rok hitam panjang, disertai kerudungmu yang terjulur rapi senada dengan warna kemejamu. Kau duduk di ujung dekat sopir bus berada. Pandanganmu lurus ke depan, tak sekalipun kau melihatku. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, karena raut wajahmu begitu serius. Aku menghela napas, mengalihkan pandanganku darimu. Ada sesuatu yang mengusik di dadaku, hasrat ingin bertanya, dan berharap kau akan melihatku, walau hanya sekali.

August 19, 2015

[Jurnal] Enam Menuju Tujuh Tahun, Kawan



https://careeryenta.files.wordpress.com/2013/06/friend1.jpg
Kawan, ini sudah memasuki tahun keenam, dan nyaris memasuki tahun ketujuh, bukan?

Malam ini, kuputuskan untuk kembali memanggil memori-memori masa lampau, yang telah terkubur oleh waktu. Sudah lama sekali niat untuk menulis kisah ini, namun seringkali hal-hal sepele mengalahkannya. Semoga saja malam ini aku dapat menyelesaikannya dengan baik.

Siapa dia? Aku tidak ingin memperkenalkannya dengan jelas, karena kuyakin—kemungkinan besar dia akan ‘mencak-mencak’ kepadaku. Hahaha.

August 12, 2015

[Jurnal] Terima Kasih Atas 20 Tahun Hidupku



http://www.happybirthdaywishes-images.com/wp-content/uploads/2015/08/happy_birthday_Cake_Wallpaper.jpg
Selamat bertambah usia untuk kesekian kalinya, Fani.

Di tahun ini, genap sudah usiaku menginjak angka 20, melepas angka 1 yang dahulunya berada di depan, dan memasuki angka 2 di depannya.

Baiklah, aku akan membukanya dengan ‘alhamdulillah wa syukurillah’. Sang Kuasa masih memberikan kesempatan padaku untuk hidup di dunia ini. Ia tetap memberikan kesempatan untuk berbenah diri, mengintropeksi diri—termasuk memperbaiki kesalahan yang terjadi setahun lalu, atau beberapa tahun lalu. Rasa syukur akan usia ini, tidak menandingi apapun saat ini. Karena dengan hal ini, menunjukkan Allah masih memberi peluang untuk menjadi orang yang lebih baik. InsyaAllah, Amiin Ya Rabb.

Alhamdulillah atas kesehatan yang senantiasa Allah berikan kepadaku. Dengan nikmat inilah, setidaknya aku dapat berusaha untuk beribadah padaNya sebaik mungkin.

Alhamdulillah atas perasaan kasih dan sayang yang Allah limpahkan kepada ‘mereka’ untukku. Tiada kata paling indah untuk menggambarkan sosok mereka. Paling tidak dengan umur yang panjang ini, Allah masih memberikan kesempatan padaku untuk terus berjuang membuat mereka bahagia.

Alhamdulillah atas nikmat yang tak dapat terucap satu persatu. Karena Ia adalah pemberi nikmat tiada tara yang kadangkala terlupakan. Astagfirullah. Apapun yang Kau berikan padaku di hari ini, esok lusa, dan hari-hari berikutnya, merupakan sesuatu yang harus selalu kusyukuri.

Selanjutnya, ucapan syukur kembali terucap untukMu, Ya Rabb.

Terima kasih telah berada di sisiku, bahkan saat orang-orang tak mampu lagi mengerti akan keadaanku, Engkaulah yang kan memenuhi rongga-rongga pelipur lara ini.

Terima kasih telah memberikan kekuatan padaku untuk melewati ini semua. Karena aku tahu, tanpa Engkau aku tidak akan sampai pada posisi ini. Pertolongan Engkau lah yang membuatku berada di situasi yang lebih baik saat ini.

Terima kasih atas segala pintu maaf yang senantiasa kau berikan untukku. Aku menyakini Kau Maha Pengampun. Karena dengan begitu, hatiku jauh lebih tenang.

Terima kasih telah memberikan kasih dan sayangMu kepadaku sebagai hambaMu. Tidak ada yang kubutuhkan selain ridha dariMu. Apalah artiku tanpa ridha dariMu, Ya Rabb.

Terima kasih telah membuatku menjadi orang yang kuat, memberikan dorongan hingga aku berada di titik yang tadinya tak mampu kuraih.

Ya Rabb, terima kasih atas segala apapun yang kau berikan. Aku bersyukur Kau masih berada di sisiku.

Ya Rabb, di umur yang menginjak angka 2, jadikanlah diri ini menjadi orang-orang yang senantiasa di dekatMu, mencintaiMu sepenuh hidupku, dan menjadi manusia yang lebih berarti di mataMu. Karena aku percaya, bahwa Kau tidak pernah sia-sia menciptakan umatMu. Amiin Ya Rabb :’)

Selamat bertambah usia yang ke- 20, Fani.

Salam,
10 Agustus 2015