Sudah
berapa banyakkah “teko” kalian terisi?
Sudahkah
penuh? Atau justru sebaliknya?
Akhir-akhir
ini saya kesulitan dalam menulis. Bukan merangkai kata yang menjadi kendalanya,
tetapi ide seperti apa yang hendak saya tulis. Itulah masalahnya, saya tidak
tahu cerita seperti apa yang bisa saya tulis, atau alur seperti apa yang hendak
saya utarakan. Saya tiba-tiba kehilangan semua itu. Saya juga tidak tahu,
tiba-tiba pikiran saya buntu. Bahkan, sekedar untuk berimajinasi saya tidak
bisa melakukannya sekarang. Ada apa? Apa yang salah dengan semua itu? Tadinya,
saya berpikir bahwa istirahatlah yang dibutuhkan untuk memulihkan semua itu. Namun,
justru pikiran saya tidak stabil setelah istirahat. Saya tahu, bahwa menulis
lah yang membuat pikiran saya jernih. Kenapa? Karena saya menyampaikan apa yang
saya rasakan melalui tulisan. Dengan tulisanlah saya merasa lega.
Saya
suka dengan dunia tulis dan buku. Saya tidak tahu kecintaan itu datang dari
mana. Namun, saat duduk di bangku menengah saya suka bergelut dengan dunia
tulis dan buku. Dan... seperti inilah saya sekarang, sebisa mungkin untuk terus
menulis. Alasannya karena saya menyukainya, bahkan mencintainya. Saya seringkali
melihat orang-orang yang menggeluti bidangnya dengan rasa cinta. Perasaan itu
seolah membuat mereka hidup dengan kecintaan itu, dan tanpa sadar telah
menularkannya kepada orang lain. Oleh karena itu... saya pun mencoba untuk melakukan
hal yang sama. Walaupun belum maksimal melakukannya, namun saya terus
mencobanya.
Jika kau ingin menjadi seorang
penulis, maka jangan bergantung dengan mood agar kau dapat menulis.
Saya
pernah membaca kalimat ini dari salah seorang penulis nasional. Perkataannya benar,
karena jika kita menulis hanya karena mood
maka tulisan tidak akan pernah selesai. Saya menyadari bahwa kebiasaan menulis
karena mood masih menjadi kebiasaan
saya. Saya akui itu salah. Jika saya terus menerus mengandalkan mood, kapan saya akan menjadi penulis
dengan baik? Kapan saya akan memunculkan ide-ide untuk menulis setiap harinya
jika mood masih saya jadikaan tiang
untuk menulis?
Menjadi penulis tidaklah mudah. Kau
harus banyak membaca. Kau harus banyak menyimpan bekal dalam bentuk wawasan. Karena
penulis tanpa wawasan layaknya makanan tanpa garam. Tulisan akan terasa hambar.
Sekali
lagi, saya tidak pernah menganggap menjadi penulis adalah hal yang mudah. Sulitkah?
Iya, menjadi penulis tidaklah mudah. Merangkai kata menjadi kalimat, meramunya
hingga menjadi suatu yang layak untuk dibaca. Namun, saya percaya dengan kerja
keras dan latihan dapat membuat semuanya menjadi mudah. Saya yakin, untuk
mendapatkan sesuatu ada banyak yang harus ditempuh. Dan... jalan yang ditempuh
itu sungguh panjang, berliku, bahkan banyak batu sandungan. Tetapi, itulah
sensasinya. Jika mendapatkan sesuatu itu terlalu mudah, maka tidak dirasakan
lagi apa makna “berlelah-lelah”, bukankah begitu?
Saya
telah melangkah sejauh ini. Alangkah disayangkan jika saya harus mundur. Saya memutuskan
untuk terus berjuang, bahkan ketika saya tidak tahu takdir seperti apa yang ada
di depan sana. Saya akan terus menulis.
Saya
sudah belajar menulis sejak sekolah dasar. Meskipun hanya menulis rutinitas
harian, tetapi itu menjadi permulaan bagi saya. Lalu, semua itu berlanjut
hingga hari ini. Kadangkala, saya tertawa jika melihat tulisan-tulisan saat
sekolah menengah. Takjubnya adalah, ternyata tulisanpun dapat “bermetamorfosis”.
Perubahan tulisan itu jelas sekali saya rasakan. Memang benar, waktu dan
latihan membuat semuanya berubah jadi lebih baik.
Seorang
penulis pernah menyebutkan, bahwa menjadi seorang menulis minimal bacalah 8
buku dalam satu bulan. Salah satu tantangan menjadi penulis itu, kita harus
siap sedia “ide” di otak, walaupun kondisi tak memungkinkan sekalipun. Membaca seolah
menjadi asupan gizi bagi karya kita. Dengan membaca, semakin banyak yang kita
tahu, dan semakin banyak rangkaian kata yang dapat ditulis. Istilahnya, membaca
adalah mengisi “teko”. Saat “teko” itu telah terisi, maka mengalirlah deretan
kalimat. Jika “teko” itu kosong, maka terhentilah aliran kalimat itu.
Dan...
saya menemukan masalahnnya. Beberapa bulan ini saya kurang banyak membaca. Saya
sibuk menjalani rutinitas tanpa memberi waktu untuk asupan gizi “imajinasi”
saya sendiri. Tidak dipungkiri saya sering mengalami writer-block. Teko saya sudah kosong, dan harus diisi lagi. Ah, betapa
pentingnya membaca.
Baiklah,
saya masih berada dalam zona “kebuntuan”. Jadi, bisa dikatakan kalimat yang
saya rangkaipun agak berantakan. Oleh karena itu, harap dimaklumi.
Terakhir,
mari mengisi “teko” jika nyaris terasa kosong. Jangan biarkan kosong, karena
bagaimanapun membaca selalu memberikan pemahaman yang baru untuk hidup. Membaca
jugalah yang melahirkan pemikiran-pemikiran bijak.
Untuk
itu, saatnya mengisi “teko”
Selamat
malam.

No comments:
Post a Comment