Pages

March 26, 2016

[Jurnal] Sudahkah "Teko" Itu Terisi Penuh?






Sudah berapa banyakkah “teko” kalian terisi?
Sudahkah penuh? Atau justru sebaliknya?

Akhir-akhir ini saya kesulitan dalam menulis. Bukan merangkai kata yang menjadi kendalanya, tetapi ide seperti apa yang hendak saya tulis. Itulah masalahnya, saya tidak tahu cerita seperti apa yang bisa saya tulis, atau alur seperti apa yang hendak saya utarakan. Saya tiba-tiba kehilangan semua itu. Saya juga tidak tahu, tiba-tiba pikiran saya buntu. Bahkan, sekedar untuk berimajinasi saya tidak bisa melakukannya sekarang. Ada apa? Apa yang salah dengan semua itu? Tadinya, saya berpikir bahwa istirahatlah yang dibutuhkan untuk memulihkan semua itu. Namun, justru pikiran saya tidak stabil setelah istirahat. Saya tahu, bahwa menulis lah yang membuat pikiran saya jernih. Kenapa? Karena saya menyampaikan apa yang saya rasakan melalui tulisan. Dengan tulisanlah saya merasa lega.


Saya suka dengan dunia tulis dan buku. Saya tidak tahu kecintaan itu datang dari mana. Namun, saat duduk di bangku menengah saya suka bergelut dengan dunia tulis dan buku. Dan... seperti inilah saya sekarang, sebisa mungkin untuk terus menulis. Alasannya karena saya menyukainya, bahkan mencintainya. Saya seringkali melihat orang-orang yang menggeluti bidangnya dengan rasa cinta. Perasaan itu seolah membuat mereka hidup dengan kecintaan itu, dan tanpa sadar telah menularkannya kepada orang lain. Oleh karena itu... saya pun mencoba untuk melakukan hal yang sama. Walaupun belum maksimal melakukannya, namun saya terus mencobanya.

Jika kau ingin menjadi seorang penulis, maka jangan bergantung dengan mood agar kau dapat menulis.

Saya pernah membaca kalimat ini dari salah seorang penulis nasional. Perkataannya benar, karena jika kita menulis hanya karena mood maka tulisan tidak akan pernah selesai. Saya menyadari bahwa kebiasaan menulis karena mood masih menjadi kebiasaan saya. Saya akui itu salah. Jika saya terus menerus mengandalkan mood, kapan saya akan menjadi penulis dengan baik? Kapan saya akan memunculkan ide-ide untuk menulis setiap harinya jika mood masih saya jadikaan tiang untuk menulis?

Menjadi penulis tidaklah mudah. Kau harus banyak membaca. Kau harus banyak menyimpan bekal dalam bentuk wawasan. Karena penulis tanpa wawasan layaknya makanan tanpa garam. Tulisan akan terasa hambar.

Sekali lagi, saya tidak pernah menganggap menjadi penulis adalah hal yang mudah. Sulitkah? Iya, menjadi penulis tidaklah mudah. Merangkai kata menjadi kalimat, meramunya hingga menjadi suatu yang layak untuk dibaca. Namun, saya percaya dengan kerja keras dan latihan dapat membuat semuanya menjadi mudah. Saya yakin, untuk mendapatkan sesuatu ada banyak yang harus ditempuh. Dan... jalan yang ditempuh itu sungguh panjang, berliku, bahkan banyak batu sandungan. Tetapi, itulah sensasinya. Jika mendapatkan sesuatu itu terlalu mudah, maka tidak dirasakan lagi apa makna “berlelah-lelah”, bukankah begitu?

Saya telah melangkah sejauh ini. Alangkah disayangkan jika saya harus mundur. Saya memutuskan untuk terus berjuang, bahkan ketika saya tidak tahu takdir seperti apa yang ada di depan sana. Saya akan terus menulis.

Saya sudah belajar menulis sejak sekolah dasar. Meskipun hanya menulis rutinitas harian, tetapi itu menjadi permulaan bagi saya. Lalu, semua itu berlanjut hingga hari ini. Kadangkala, saya tertawa jika melihat tulisan-tulisan saat sekolah menengah. Takjubnya adalah, ternyata tulisanpun dapat “bermetamorfosis”. Perubahan tulisan itu jelas sekali saya rasakan. Memang benar, waktu dan latihan membuat semuanya berubah jadi lebih baik.

Seorang penulis pernah menyebutkan, bahwa menjadi seorang menulis minimal bacalah 8 buku dalam satu bulan. Salah satu tantangan menjadi penulis itu, kita harus siap sedia “ide” di otak, walaupun kondisi tak memungkinkan sekalipun. Membaca seolah menjadi asupan gizi bagi karya kita. Dengan membaca, semakin banyak yang kita tahu, dan semakin banyak rangkaian kata yang dapat ditulis. Istilahnya, membaca adalah mengisi “teko”. Saat “teko” itu telah terisi, maka mengalirlah deretan kalimat. Jika “teko” itu kosong, maka terhentilah aliran kalimat itu.

Dan... saya menemukan masalahnnya. Beberapa bulan ini saya kurang banyak membaca. Saya sibuk menjalani rutinitas tanpa memberi waktu untuk asupan gizi “imajinasi” saya sendiri. Tidak dipungkiri saya sering mengalami writer-block. Teko saya sudah kosong, dan harus diisi lagi. Ah, betapa pentingnya membaca.

Baiklah, saya masih berada dalam zona “kebuntuan”. Jadi, bisa dikatakan kalimat yang saya rangkaipun agak berantakan. Oleh karena itu, harap dimaklumi.

Terakhir, mari mengisi “teko” jika nyaris terasa kosong. Jangan biarkan kosong, karena bagaimanapun membaca selalu memberikan pemahaman yang baru untuk hidup. Membaca jugalah yang melahirkan pemikiran-pemikiran bijak.

Untuk itu, saatnya mengisi “teko”

Selamat malam.

No comments:

Post a Comment