Pages

August 12, 2016

[Serial Fiksi] Rabu Kelabu #5



“Ayah sedang memikirkan apa?” tanyaku dengan mata berbinar-binar. Dia hanya diam. Hari ini adalah kunjunganku yang kedua di minggu ini. Setelah menjadi pegawai tetap di toko buku tersebut, aku menerima waktu libur yang jelas. Hal ini menguntungkan bagiku, karena dapat menemui ayah sesering mungkin. Berbicara tentang kehidupanku, aku masih seperti setahun, dua tahun, ataupun tiga tahun lalu. Empat tahun berlalu begitu cepat dan aku baik-baik saja. Walaupun kadangkala setiap malam aku akan menangis sendiri di atas atap karena kerinduan yang tak tertahankan dengan ibu. Aku percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja karena waktu akan mengobati setiap luka. Tetapi hingga saat ini, luka itu belum sepenuhnya sembuh. Jika mengingat kepergian ibu, serentetan memori akan kembali di benakku. Dan... semua itu menyakitkan.

[Jurnal] Dia Perpanjang Usiaku (Lagi)




Selamat bertambah usia, Fani. Ah, dua hari yang lalu bertambah sudah usia kau, Fani. Dan... kau tahu apa artinya? Ya, semakin kecil waktu yang tersisa untuk melakukan banyak hal, dan tanggung jawab yang semakin besar di depan mata. Tidak banyak yang ingin kusampaikan pada tulisan ini. Aku menulis, dengan tujuan ini adalah suatu kewajiban bagiku, ketika digit angka usia itu bertambah. Setidaknya, semua itu menjadi pengingat bagiku untuk tidak bermain-main lagi.

July 11, 2016

[Serial Fiksi] Rabu Kelabu #4



Waktuku habis. Aku harus pergi bekerja. Mungkin, belum waktunya bertemu dengan ayah. Aku meninggalkan makanan yang kubawa untuknya, dan secarik kertas penanda kehadiranku.

“Kau ingin pergi, Mili?” tanya Lili ketika mendatangiku di kamar ayah. Aku mengangguk.

“Bolehkah aku meminta tolong pada kau, Lili?” pintaku.

“Tentu. Aku akan senang membantu kau, Mili.” balasnya sumringah.

“Kabari keadaan ayahku setelah pemeriksaan nanti. Ini nomor ponselku. Bisakah?” pintaku sambil memberikan kertas berisi nomor ponselku. Dia mengangguk paham

“Dia akan baik-baik saja, Mili.” ucapnya sebelum aku meninggalkannya. Aku tahu, ayahku pasti akan baik-baik saja, dan kuharap memang seperti itu adanya.


Untukmu ayah, laki-laki terbaik yang kupunya
Hari ini, aku datang lagi mengunjungimu. Sayangnya, kita tidak bertemu. Mungkin, esok-esok akan kutemui ayah lebih awal. Aku merindukanmu, ayah. Kuharap kau baik-baik saja.

Mili

June 30, 2016

[Jurnal] Akan Kuajarkan Kau dengan Baik


Akan kuajarkan kau dengan baik.
Kita harus mulai darimana?

June 21, 2016

[Serial Fiksi] Rabu Kelabu #3



Sekarang hari Minggu dan itulah liburan singkat bagiku. Aku bekerja di toko buku dekat kampus ternama di kota ini. Aku tidak pernah berniat untuk melakukan pekerjaan itu, tetapi sejak kehilangan yang terjadi beberapa tahun silam, mengharuskanku melebur semua mimpi yang tadinya kususun sedimikian indahnya. Aku menghela napas. Dua tahun silam, aku juga memutuskan untuk menarik diri dari teman-teman yang dahulunya berada dalam lingkaranku. Kenapa aku melakukannya? Entah perasaan malu, ataukah ingin berhenti hidup di sekitar mereka, aku tidak tahu. Alhasil, dapat dikatakan aku tidak pernah mengetahui kabar mereka setelah itu. Dan... aku baik-baik saja dengan hal itu.

June 3, 2016

[Serial Fiksi] Rabu Kelabu #2

Aku mendesah, karena lantai lima terasa jauh sekali. Satu hal yang kusesali dengan tidak tersedianya lift. Bayangkan, setiap hari aku harus menaiki dan menuruni tangga hingga lantai empat. Kadang-kadang sebagai penghibur hati, bahwa aku akan lebih cepat kurus seperti ini. Anggaplah olahraga ringan bagiku, dan melatih otot kakiku agar tetap kuat untuk berjalan. Walaupun kadangkala aku menggerutu jika penat menguasai tubuhku.

Hah, akhirnya sampai. Batinku. Akhirnya setelah susah payah menaiki tangga, aku sampai di lantai teratas. Aku melihat pintu setengah terbuka, dan kudapati seseorang duduk dengan posisi yang sama seperti malam-malam sebelumnya—sisi ujung. Aku berjalan mendekatinya, dan juga duduk di ujung sisi yang lain. Aku berdeham menandakan kehadiranku. Dia melihat ke arahku.

“Kau sampai. Aku nyaris membeku menunggu kau datang, Mili.” lirihnya.

May 30, 2016

[Wishlist Buku] Purple Eyes #Prisca Primasari


Judul : Purple Eyes
Pengarang : Prisca Primasari
Terbit : April 2016
Jumlah Halaman : 144 Halaman
Penerbit : Inari

Sinopsis
"Karena terkadang,  tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi." Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin. Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh. Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.

Catatan: Novel ini tipisnya begitu mirip dengan novel kak Prisca berjudul French Pink. Saya tidak tahu mana yang lebih kelam antara novel ini dengan "French Pink" karena sepertinya tema yang disuguhkan sama-sama berhubungan dengan kematian. Jika pada novel 'French Pink' kematian dan cerita lebih bersifat 'manis' tetapi di novel purple eyes saya tidak tahu ^^ Yak, mengumpulkan pundi-pundi lagi. Bayangkan, dalam tahun ini kak Prisca produktif menerbitkan buku.