Pages

October 22, 2018

[Bedah Buku] Tangga Menuju Cinta-Nya #1

Pict Alqur'an by Pinterest
Bismillah. Alhamdulillah wa syukurillah. Setelah kurang lebih satu bulan saya tidak menulis apapun di sini. Entah karena alasan apa, hanya saja saya kehilangan ide untuk menulis.

Saya berusaha untuk menyempatkan diri dalam membaca buku. Meskipun hanya beberapa halaman. Saya memaksa diri untuk menyelesaikan buku 'Tarbiyah Cinta Imam Ghazali' karya Yon Machmudi dan Soraya Dimyathi. Saya telah sampai di halaman 159. Saya berada pada bahasan 'Tangga Menuju Cinta-Nya'. 

"Sebelum kau jatuh cinta kepada makhluk-Nya, jatuh cintalah kepada-Nya lebih dahulu"

Saya membaca buku ini amat lambat, dengan harapan dapat memahaminya dengan baik. Terlepas dari segala penuturan yang kadangkala masih membuat saya kurang nyaman. Namun di balik semua itu, buku ini seolah recharge bagi iman saya. Dan mencintai Allah adalah suatu keharusan. 

Bagaimana cara mencintai-Nya? 

Dan mencintai adalah mendahulukan yang dicintai. Salah satu cara sederhana mencintai-Nya adalah mendahulukan-Nya dibanding kepentingan lain.

[Membaca Al-Qur'an Sepenuh Penghayatan] 

August 26, 2018

[Bedah Buku] Berkawan

Pict by Sean-McComb
Saya masih berusaha untuk meluangkan waktu untuk membaca. Minimal satu jam untuk membaca, sekaligus untuk mengurangi timbunan buku yang belum terbaca. Saya melanjutkan buku Teach Like Finland karya Timothy D Walker. Saya belum bisa berandai-andai kapan pastinya mampu menyelesaikan buku ini. Bukan karena bukunya tidak menarik, tapi butuh waktu untuk mencerna setiap kisah dari si penulis. Saya telah menyelesaikan bagian kedua buku ini: Rasa Dimiliki. Lalu, saya tertarik untuk membahas tentang Berkawan yang diceritakan oleh penulis.

"Ketika Anda berbagi dengan orang lain segalanya menjadi lebih ringan"--halaman 87.

August 22, 2018

[Jurnal] Kesempatan Menjadi Seorang Guru


Saya percaya bahwa Allah telah menetapkan segalanya dengan baik, termasuk segala kesempatan dan harapan. Saya masih ingat apa yang terjadi satu tahun lalu-skripsi dan wisuda. Lalu, waktu tanpa disadari berjalan cukup cepat. Hingga saya telah berada cukup jauh dari hiruk pikuk kejadian itu. Sekarang adalah minggu terakhir di bulan Agustus. Tidak ada yang menyangka bahwa bulan esok adalah pengingat satu tahun toga berada di atas kepala saya. Tidakkah itu menjadi hari yang membahagiakan kala itu? Alhamdulillah wa syukurillah, Allah beri saya kesempatan di hari itu. Sekarang, setelah euforia wisuda berlalu tanpa terduga Allah berikan saya kesempatan lagi. 

Saya menyakini bahwa kesempatan tidak pernah datang dua kali. Maka dari itu, saya memutuskan untuk mengambil kesempatan itu. Meskipun itu berarti saya harus keluar dari zona nyaman. Percaya atau tidak, saya selalu takut untuk memulai sesuatu yang baru. Perasaan tidak nyaman yang senantiasa hadir menjadi hambatan bagi saya. Satu bulan yang lalu, saya diberi kesempatan untuk mengajar di sekolah. Selepas kompre Juli tahun lalu, saya mengajar di bimbel, sambil menikmati hidup sebagai seorang pengajar hingga hari ini. Lalu, entah sejak kapan saya mulai berdoa pada-Nya. Ya, saya meminta pada-Nya agar diberi kesempatan.

Saya meminta, lalu Allah memberikannya. Tiba-tiba ada kabar terbukanya peluang bagi saya. Saya memberanikan diri untuk melamar walaupun hati penuh dengan rasa takut. Saya takut bertemu dengan orang baru, takut tidak diterima dalam suatu lingkungan. Beberapa minggu setelah itu, dengan harapan yang tak jelas-antara berharap dan tidak, panggilan itu datang. Mungkin bisa dibayangkan bagaimana degup jantung saya waktu itu. Berlebihan memang, tapi saya memang seperti itu.

July 9, 2018

[Bedah Buku] Julaibib Radhiyallahu anhu

(Biggest Dream Masjidil Haram,
Makkah Saudi Arabia)
"Ada orang yang di sisi manusia tak pernah sekalipun tersebut namanya, namun di sisi Zat Arsy, dia begitu di dikenal hingga para malaikatpun mendoakannya".

Apabila membaca buku non fiksi, sulit sekali bagi saya untuk konsisten pada satu buku. Sebelumnya saya sedang bersemangat menyelesaikan Teach Like Finland, namun apa daya, buku karangan Yon Machmudi dan Soraya Dimyathi ini lebih menarik. Buku ini berjudul "Tarbiyah Cinta Imam Al-Ghazali". Walaupun membaca seperti siput, setidaknya saya telah berada di halaman 122. 

Pada mulanya saya tidak begitu tertarik membacanya, karena ada beberapa pemilihan diksi yang membuat saya kurang nyaman ketika membacanya. Tetapi, semua itu terlupakan ketika penulis mulai menyuguhkan kisah-kisah para sahabiyah: bagaimana cara mereka mencintai Allah dan Rasulullah. Sungguh cerita-cerita singkat itu membenarkan bahwa mencintai-Nya adalah suatu keharusan.

June 16, 2018

[Review Buku] Surat untuk Ruth #Bernard Batubara

Judul : Surat untuk Ruth
Pengarang : Bernard Batubara
Tahun terbit : 15 April 2014
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman : 168 halaman
Sinopsis

Ubud, 6 Oktober 2012

Ruth,

Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama, bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta namun ditakdirkan untuk tidak bersama? Aku dan kamu tidak memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan. Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan? 

Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth?
***

June 13, 2018

[Bedah Buku] Menyederhanakan Ruang

(Alvar Aalto's studio in Helsinki)
Pada akhirnya saya menulis di sini. Bagi saya, di sini terasa lebih nyaman dibandingkan tempat lainnya. Entahlah, mungkin karena terbiasa berada di sini.

Kali ini, buku yang saya bahas adalah Teach Like Finland karangan Timothy D. Walker. Kenapa saya memilih membahas daripada mereview buku ini nantinya? Saya tidak yakin dapat selesai membacanya dalam waktu dekat. Saya memiliki kelemahan ketika membaca buku non-fiksi. 

Saya membeli buku ini awal November tahun lalu. Sudah hampir setengah tahun, namun progress saya dalam membacanya masih seperti siput. Waktu itu saya sudah sampai di halaman 40-an, tapi karena vakum membacanya beberapa waktu, saya membaca ulang dari awal. 

Malam ini saya berhasil mencapai halaman 36. Walaupun tersendat beberapa kali, akhirnya sampai pada topik 'menyederhanakan ruang'. Hal yang saya senangi dari buku ini adalah pembahasan tentang sekolah di Finlandia dijabarkan secara terstruktur dan terdapat penelitian yang relevan. Akibatnya saya sebagai pembaca tidak sekedar memperoleh informasi mengenai sekolah di Finlandia, namun didukung oleh argumen yang kuat.

June 10, 2018

[Jurnal] 'Anak-anaknya' Kak Prisca Primasari


Saya mulai tertarik untuk membaca novel sejak duduk di bangku kelas 1 SMP. Awalnya sebagai pengisi waktu luang, lalu lambat laun semua itu menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Setiap hari saya menyisihkan uang untuk membeli buku. Saya membeli buku dari uang yang disisihkan setiap bulannya, karena saya memiliki tabungan tersendiri untuk membeli buku. 

Seiring waktu saya pun mulai mengenal karya-karya Kak Prisca. Saya tidak ingat kapan tepatnya mulai memasukkan novelnya dalam book wish list. Novel pertama Kak Prisca yang saya beli adalah Eclair: Pagi Terakhir di Rusia. Saya membeli buku ini bukan karena penulisnya, melainkan karena sampul buku yang terlihat menarik di mata saya. Alasan ke dua karena judulnya. Bagi saya, judul pun ikut dalam mengisyaratkan isi dari suatu buku.