Pages

June 26, 2015

[Review] Rindu #TereLiye

Rindu
Judul : Rindu
Pengarang : Tere Liye
Tahun terbit : Oktober 2014
Penerbit : Republika
Jumlah halaman : 544 halaman
Sinopsis

“Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?
Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?
Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami tertunduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kemi hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”
Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya di sayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.

Selamat membaca..
Rindu—itulah judul novel yang ditulis oleh penulis terkemuka di tanah air saat ini—Tere Liye. Seketika kita akan berasumsi bahwa dari judul saja akan tertebak kemana arah ceritanya. Tentang romantisme belaka. Sayangnya, pembaca akan sedikit kecewa karena novel ini tidak mutlak membicarakan romansa cinta sepasang kekasih. Rindu—judul ini bermakna dalam—setelah saya menyelesaikan membacanya.

Novel ini berkisah tentang perjalanan panjang yang suci —perjalanan yang dinantikan seumur hidup—menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanan panjang itu, tersaji lima kisah memilukan, berbagai kisah hidup yang dahulunya belum terjawab. Melalui perjalanan panjang itu, perlahan seorang ulama besar di negeri itu menjawabnya, memberikan pembelajaran hidup, menghidupkan cahaya kehidupan yang dahulunya redup. Dengan perjalanan panjang itu banyak hal terjadi yang tak pernah disadari.

Marilah kita menyusuri si tokoh utama dalam novel ini. Ialah seorang ulama besar dari Makassar bernama Ahmad Karaeng atau lebih disapa Gurutta. Pada suatu kesempatan ia dapat menunaikan ibadah haji, setelah melewati serentetan izin dari pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Sosoknya sungguh jelas tercermin, bahwa ia adalah pemimpin yang disegani, terhormat, dan siapapun yang bertemu dengannya ingin sekali menjabat tangannya.

Dari novel ini, kita diajak menelusuri kisah lampau, tentang sejarah dahulunya. Tidak ada mobil-mobil canggih, pesawat terbang atau kemudahan yang dirasakan saat sekarang ini. Ini tentang masa dahulu—saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda—dan berusaha sekuat tenaga untuk merdeka.

Novel ini sangat kental dengan unsur agama yang dibawa—dengan gurutta menjadi gurunya. Adanya pengajian sehabis sholat, menyuruh anak-anak belajar mengaji selama perjalanan di kapal, dan mengendalikan segala aktivitas yang bermanfaat sebelum tiba di tempat tujuan. Ia adalah kakek tua yang luar biasa—apapun pertanyaan yang dilontarkan, akan dengan bijak dijawabnya. Melalui dirinyalah, satu persatu lima kisah hidup masa lalu terkuak—di dalam kapal milik Belanda.

Kisah pertama adalah tentang masa lalu yang memilukan. Ia adalah seorang wanita keturunan Tionghoa muslim yang dahulunya adalah mantan seorangcabo. Luka masa lalu membuatnya ragu menghadapi masa depan, tidak percaya diri, dan menutup diri dari banyak orang. Ia merasa begitu nista hingga tak layak mendapatkan kebahagiaan. Namun, seseorang dengan kalimat bijaknya memberikan sedikit cahaya di mata wanita itu.

“... Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia.”

“... tentang penilaian orang lain, tentang cemas diketahui orang lain siapa kau sebenarnya. Maka ketahuilah,Nak, saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis apakah tawa itu bahagia atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam seluruh kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat kita menangis pun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. Orang lain hanya melihat luar. Maka tidak relevan penilaian orang lain.” (dalam Rindu, hal: 312).

“Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar itu. Itu kehidupan kita. Tidak perlu siapa pun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan. Karena sebenarnya yang tahu persis apakah kita bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya diri kita sendiri. Kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia. Kita hanya perlu merengkuh rasa damai hati kita sendiri.

“Kita tidak perlu membuktikaan apapun kepada siapapun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu.” (dalam Rindu, hal: 313).

Kisah kedua, kita diajak menelusuri kehidupan seorang Andipati—laki-laki rupawan dengan segala kecukupan yang dimilikinya—harta yang berlimpah, perusahaan yang berjalan lancar, istri yang cantik, dan anak-anak yang menggemaskan. Namun, segala yang terlihat tidaklah menunjukkan seperti apa sebenarnya kehidupan yang kita jalani. Orang-orang hanya melihat luarnya, tanpa mengerti betapa sulitnya kehidupan yang dijalaninya—dulu. Ini tentang seorang anak yang memendam kebencian yang teramat dalam kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Namun, sekali lagi, kakek tua itu mampu meredakan kebencian yang telah tertanam bertahun-tahun lamanya.

“... kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri saat membenci orang lain. Ketika ada orang jahat, membuat kerusakan di muka bumi, misalanya, apakah Allah langsung mengirimkan petir untuk menyambar orang itu? Nyatanya tidak. Bahkan dalam beberapa kasus, orang-orang itu diberikan begitu banyak kemudahan, jalan hidupnya terbuka lebar. Kenapa Allah tidak langsung menghukumnya? Kenapa Allah menangguhkannya? Itu hak mutlak Allah. Karena keadilan Allah selalu mengambil bentuk terbaiknya, yang kita tidak selalu paham.” (dalam Rindu, hal: 373).

“... Ketahuilah, Nak, saat kita memutuskan memaafkan seseorang itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya. Bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati.”

“... kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, dengan penghapus canggih, dengan apa pun. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya, bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong.” ( dalam Rindu, hal: 375 ).

Kisah ketiga, kita diajak belajar tentang pasangan sepuh yang begitu luar biasa. Mbah Kakung dan Mbah Putri. Diusianya yang tidak lagi muda—mereka mampu memperlihatkan betapa besarnya cinta mereka setelah 60 tahun bersama, melewati segala suka dan duka kehidupan. Walaupun indera mereka tak lagi setajam dahulunya, tetapi mereka tetap saling berkasih sayang, tetap saling berbicara dengan penuh cinta. Namun, perjalanan nan suci itu harus merenggut kebahagiaan pasangan sepuh itu.

Kita tidak pernah tahu kapan ajal datang menjemput, tidak pernah tahu bagaimana perasaan kita saat itu. Ajal datang begitu saja, tanpa menunda sedetik saja. Mba Putri pergi untuk selama-lamanya. Dan dapat terlihat bahwa kepergian kekasih hati seolah membawa separuh hatinya—Mbah Kakung. Tapi, dengan sangat apik Gurutta kembali memberikan pemahaman yang dibutuhkan oleh Mbah Kakung.

“... biarkan waktu mengobati seluruh kesedihan, Kang Mas. Ketika kita tidak tahu mau melakukan apalagi, ketika kita merasa semua sudah hilang, musnah, habis sudah, maka itulah saatnya untuk membiarkan waktu menjadi obat terbaik. Hari demi hari akan menghapus selembar demi lembar kesedihan. Minggu demi minggu akn melepas sepapan demi sepapan kegelisahan. Bulan, tahun, maka rontok sudahlah bangunan kesedihan di dalam hati. Biarkan waktu mengobatinya, maka semoga kita mulai lapang hati menerimanya. Sambil terus mengisi hari-hari dengan baik dan positif.” (dalam Rindu, hal: 472).

Kisah keempat, inilah kisah yang mungkin sedikit menyangkut romansa masa muda. Masa dimana benih-benih cinta itu mulai tumbuh dan subur seiring berjalannya waktu. Ini adalah kisah tentang pelaut sejati bernama Ambo Uleng. Ia adalah laki-laki berkulit hitam legam dengan tubuh kekar. Ia memutuskan untuk meninggalkan kota Pare-pare, menumpang dengan kapal yang mengangkut jemaah haji, dan meminta untuk dipekerjakan apa saja di kapal itu.

Suatu malam tiba-tiba ia bertanya kepada Gurutta apakah kakek tua itu pernah jatuh cinta-apakah pernah mencintai seorang wanita. Perlahan, pertanyaan demi pertanyaan dalam benak Ambo Uleng terjawab oleh Gurutta.

“... cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. Persis seperti anak kecil yang menghayutkan botol tertutup di lautan, dilepas dengan rasa suka cita. Aku tahu kau akan protes, bagaimana mungkin? Kita bilang itu cinta sejati, tapi kita justru melepaskannya? Tapi inilah rumus terbalik yang tidak pernah dipahami para pencinta. Mereka tidak pernah mau mencoba memahami penjelasannya, tidak bersedia.” (dalam Rindu, hal: 492).

Kisah terakhir. Tentang kemunafikan. Saya ingat sebuah kutipan dari sebuah novel kalau tidak salah, penulis menyebutkan,”terkadang kita terlalu sibuk untuk menolong orang lain, melakukan banyak hal untuk orang lain yang tanpa disadari bahwa kitalah yang sebenarnya butuh pertolongan.”

Gurutta adalah ulama besar yang dengan kepiawaiannya mampu menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan, dan menjadi pemberi nasihat terbaik. Namun tanpa diketahui, dirinya sendiri tidak pernah mampu menjawab pertanyaan besar yang ada di benaknya.
Namun siapa sangka pertanyaan besar itu justru terjawab oleh laki-laki yang dangkal ilmu agamanya—Ambo Uleng.

“... kita tidak akan pernah bisa meraih kebebasan kita tanpa peperangan! Tidak bisa. Kita harus melawan. Dengan air mata dan darah.”

“... Melawan lewat kalimat lembut, tulisan-tulisan menggugah, tapi kita tidak bisa mencabut duri di kaki kita dengan itu... Kita harus mencabutnya dengan tangan. Sakit memang, tapi harus dilakukan.”

Dan semua kisah itu berakhir bahagia. Penerimaan dan kerelaan membuat kisah-kisah itu berakhir indah.

Sama seperti tulisan-tulisan Tere Liye sebelumnya, kita selalu diajak untuk berpikir, lalu memahami setiap kejadian hidup ini. Penulis selalu mengajak kita untuk berpikir realistis. Membuka mata, dan berhenti untuk melihat kehidupan dari kaca mata drama yang acapkali dijumpai dalam dunia maya.  Saya mengakui bahwa untuk menyelesaikan novel ini dibutuhkan waktu yang panjang. Novel ini tergolong bacaan yang berat, karena tidak semua orang mampu memahami kalimat-kalimat yang dijabarkan dengan sekali baca. Butuh berkali-kali hingga untaian kalimat itu meresap di otak, lalu mengubah sedikit pemahaman hidup.

Selain itu, setting yang diangkat oleh penulis adalah masa dulu—saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Mungkin bagi pembaca kisaran 17-an tidak begitu menyenangi novel ini, disebabkan karena tidak akan ditemukan kata-kata puitis yang membuat hati terenyuh. Kita hanya akan bertemu dengan kalimat-kalimat bijak.

Setting dengan waktu masa dulu menurut saya memberi kesan bahwa penulis ingin menyampaikan bagaimana dahulunya itu sangat berbeda dengan sekarang. Baik dalam segi kemerdekaan bangsa, teknologi, maupun pergaulan. Secara tersirat penulis ingin mengajak pembaca untuk menghargai para pejuang kita, memahami agama dengan baik, dan selektif dalam menerima budaya yang ada saat ini.

Terakhir, saya tidak ingin menyebutkan novel ini sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Sang Pencipta. Novel ini nyaris sempurna dengan kalimat-kalimat membangun dan menginspirasi. Seolah-olah novel ini tak mempunyai cela. Ada mungkin, tetapi semua itu tertutupi dengan pembelajaran pemahaman yang disajikan.

Saya memberikan 5/5 untuk rating novel ini ^^

Selamat membaca.

No comments:

Post a Comment