Pages

June 20, 2017

[Review] San Fransisco #ZiggyZ

Judul : San Francisco
Pengarang : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Tahun terbit : Juli 2016
Penerbit : Gransindo
Jumlah halaman : 215 halaman

Sinopsis
Satu-satunya yang menarik dari cowok bernama Ansel adalah badannya yang ketinggian, kegemarannya akan musik klasik, dan senar-senar harpa di ujung jarinya. Ansel bekerja di Suicide Prevention Center, bertugas mengangkat telepon, hingga akhirnya ia menemukan hal menarik yang baru: Rani—gadis dari negeri asing yang mengiris nadi setiap dua hari sekali. Sekarang sebagian besar kehidupan Ansel berputar di sekitar Rani. Dan, Ansel bertanya-tanya apakah pertemuan mereka di Golden Gate Bridge San Fransisco adalah takdir, atau sekadar kesialan? Karena dari sini, mobil kabel yang membawa kisah mereka bisa saja menanjak terus hingga setengah jalan menuju bintang, atau justru terjebak dalam kabut di atas perairan biru dan berangin San Francisco.


Saya kembali membaca salah satu karya Ziggy yaitu San Fransisco. Setelah Di Tanah Lada, Jakarta Sebelum Pagi, sepertinya saya mulai tertarik untuk membaca satu persatu karyanya. Saya suka dengan novel ini, karena pada bagian akhir saya menemukan jawaban yang selama ini tak pernah terjawab di hati saya. Saya membeli novel ini karena sinopsisnya tentang bunuh diri. Entahlah, saya suka dengan sesuatu yang agak kelam. Sebelumnya novel ziggy yang lain pun, menurut saya suasananya memang agak sedikit kelam: di tanah lada, dan jakarta sebelum pagi.


Awal cerita seorang Ziggy telah langsung menjelaskan tentang seseorang yang hendak bunuh diri. Selanjutnya, saya berhenti membaca…karena kepala saya tidak menerima. Seperti biasa, saya hanya berhenti beberapa hari dan selanjutnya kembali membaca.

Novel ini memang identik dengan bunuh diri karena salah satu tokohnya bekerja di salah satu hotline untuk orang-orang yang ingin mengakhiri hidup. Saya senang ketika Ansel mulai bercerita tentang musik klasik, meskipun saya tidak mengerti dengan musik klasik, bahkan setelah membacapun ingatan saya tidak mengingat dengan baik. Meskipun begitu saya senang. Saya mulai mengetahui tentang musik klasik, harpa dan biola, dan penyakit yang diderita oleh Rani.

Banyak hal yang ingin saya katakan tentang novel ini, tentang bahasa bilingual yang disajikan penulis ketika Ansel dan Rani berinteraksi. Walaupun, beberapa kalimat ada kesalahan dalam peletakan antara bahasa indonesia dan inggrisnya. Kelebihannya, saya bisa belajar bahasa inggris😂😂😂. Novel ini sungguh seperti novel terjemahan, cara penyajiannya, deskripsinya, percakapannya, dan beberapa bagian saya justru bingung, karena tiba-tiba lupa ini percakapan antara siapa dan siapa.

Bagian akhirnya, semua pertanyaan di benak saya akan novel ini terjawab. Kenapa Ansel tidak pernah ikut audisi harpa?Kenapa dia bekerja di hotline? Saya akhirnya paham. Sayangnya, ada satu hal yang tidak begitu diungkap di novel ini, yaitu tentang penyakit Rani, tentang bunuh dirinya dan penyelesainnya. Ya, hanya itu. Termasuk bagaimana cara Rani yang mengiris nadi seperti yang dikatakan pada sinopsis. Saya hanya ingin tau. Rasanya, novel ini lebih mengedepankan tentang musik klasik dibandingkan masalah tokoh utama. Menurut saya seperti itu, karena mengenai musik klasik penulis menjelaskan dengan detail.

Saya suka semua tokohnya, terutama Benji. Ah, meskipun sedikit seperti yankii (saya menemukan istilah ini saat baca momiji, haha) dia cukup bijak, dan berhasil melindungi Rani selama ini. Rasanya, kehadiran Benji itu memberikan selera humor di novel ini.

Baiklah, saya memberikan 4 bintang novel ini. Sama seperti novel Ziggy yang lainnya, yang berbekas di hati saya selalu kisahnya.

Setelah membaca novel ini, saya paham: kita terkadang salah mengartikan antara suka dan sayang. Ketika kita menyayangi seseorang berarti melakukan sesuatu untuknya. Contoh rasa sayang kita kepada ibu dan ayah, maka kita melakukan banyak hal untuk membuat mereka bahagia. Dan rasa suka itu hadir bukan karena benar-benar suka, tetapi karena adanya rasa membutuhkan yang tak terelakkan. Dan itu terjadi, ketika kita menghabiskan banyak waktu bersama orang yang kita butuhkan dan membutuhkanmu. Jadi, tidak salah ketika orang-orang yang telah lama berada di sekitar kita, lalu pergi, dan rasa kehilangan dan tidak rela itu hadir. Karena saling ketergantungan itulah.

Saya selesai dengan novel ini. Dan selamat malam. Ah ya, rasanya ingin membaca “Semua Ikan di Langit” 😂😂

Rating : 4/5