Pages

June 15, 2015

[Jurnal] Divisi Soal #PIK2015


Yak, selamat datang saudara-saudara pada tulisanku yang sangat-sangat terlambat untuk di posting. Banyak hal yang membuatku harus menunda untuk memposting tulisan ini, yah mungkin faktor-faktor yang tak jelas sebabnya. Baiklah, kebiasaan lama, aku akan lebih banyak ngelantur daripada membicarakan hal pokoknya.

Oke, welcome.

Salam Divisi Soal. Apa kabar? Hahaha. Ternyata sudah nyaris memasuki bulan ke-tiga event tersebut berlalu. Ya, acara PIK 2015 telah berlalu....
Entah karena  efek apa, aku ingin membicarakan hal ini lagi. Malam ini, tanpa sengaja kubuka kembali folder foto-foto yang berisikan acara tersebut. Dan, memoriku kembali terpanggil, bahwa di sana, dahulunya aku pernah berada di sana, berkecimpung, tertawa, menangis, bertengkar, dan banyak hal yang terjadi dalam rentang tiga bulan lalu.

Ini bukan tentang bagaimana acaranya, tetapi ini tentang kebersamaan. Sungguh, ini jalinan yang sangat luar biasa untukku, dan berdampak hingga sekarang.

Aku tidak pernah berpikir bahwa akan terdampar dalam sebuah kepanitiaan, karena yaa begitulah, sejak berada di jenjang perkuliahan aku tidak begitu aktif di dunia organisasi. Aku tidak tahu kenapa, namun itulah yang terjadi padaku sekarang. Aku punya alasan, saudara-saudara haha. 

Dan, aku tiba-tiba berada di sana—Divisi Soal. Aku mengira bahwa pekerjaan di sana tidaklah berat, dan ringan. Ternyata, aku salah. Akibatnya, liburanku semester lalu terpakai sudah. -_-
Hal yang paling kuingat adalah bagaimana perjuangannya menyelesaikan satu paket soal, dan harus sukses diterima oleh dosen pembimbing. Menariknya, aku banyak belajar di sana. Setidaknya aku belajar mental untuk menghadapi segala kritikan dari dosen. Ya, bagaimanapun itu adalah tugas, dan dengan susah payah melewatinya. Aku masih ingat saat pertama kali dicerca oleh dua orang dosen sekaligus. Sungguh, itu menggoyangkan mentalku. Katakanlah ini pertama kalinya terjadi padaku. Lalu, apa yang kulakukan? Hal yang bisa kulakukan adalah menuruti perintahnya, mencoba mempelajari wataknya, tersenyum menghadapinya, dan alhamdulillah untuk jangka waktu yang cukup panjang, aku terbiasa melewatinya saat itu. Alhamdulillah. Di sana, aku belajar bahwa petuah “Belajar dari Pengalaman” itu benar adanya.

Saat H-1 sebelum acara itu, aku ingat kita harus mem-pack soal sebanyak ratusan soal. Apabila dilihat sekilas, mungkin tidak ada yang istimewa di sana. Tetapi, setelah lama lalui masa-masa itu, barulah aku sadar, bahwa malam itu sungguh menyenangkan. Kita sibuk mempersiapkan, membaca ulang, menghitung ulang, bahkan harus bersabar apabila salah seorang teman kita tiba-tiba ‘nanit’ tak ketulungan. Haha. Setidaknya, di sana kita belajar satu hal ‘kebersamaan’.

Dan, inilah yang sulit kulupakan saat harus menyelesaikan soal babak semifinal malam itu. Sungguh ini sangat-sangat extreme perjuangannya. Aku ingat, saat harus tidur di bangku dengan sangat terpaksa. Hayolah, keadaanlah yang membuatku melakukannya. Satu hal, kita tidak mungkin meninggalkannya sendirian. Jujur, aku pribadi tidak tega. Dan, terimakasih atas ‘teh talua’ bang.

Memang benar, untuk memperjuangkan sesuatu itu dibutuhkan kesabaran, kekuatan, dan mental yang harus lebih. Aku ingat saat kita harus tertunduk lesu di meja lobi labor. Aku dapat melihat kita hampir berada di titik kepasrahan. Sungguh, saat itu aku benar-benar hilang akal harus bagaimana, dan akhirnya adalah kita tertidur di meja lobi labor bertiga. Remember? Aku masih ingat, saat Bu Yeri mengatakan “Eh, dek a anak-anak ko?”-_-

Ingatkah, saat kita menghadiri resepsi wisudawan dan wisudawati? Tunggu, kita tidak menghadirinya untuk mengucapkan selamat. Kita punya tujuan yang lebih genting, menyelesaikan SOAL FINAL PIK 2015. Istimewanya adalah kita bisa memasuki ruangan yang hanya dimasuki oleh panitia -_-. Bangga? Yeah. Tahukah bagaimana aku tiba dirumah? Takkan kujelaskan di sini, tetapi caraku pulang cukup menarik.

Selama acara itu, kesabaran haru dilipatgandakan. Sungguh. Aku dapat merasakan dari kita mengalami emosional yang tak terkontrol. Marah, sedih, lalu menangis. Hahaha. Inilah yang paling kujumpai. Yah, tapi bagaimanapun setidaknya kita bisa melewatinya hingga akhir.


Malam terakhir acara itu, kita tutup dengan “Martabak Mesir” Sayangnya tidak semua dari kita menikmati makanan itu. Haha, terimakasih bang. Padahal kami hanya bercanda saat itu, hmm.
Dan, saat semua itu berakhir. Ini seperti kembali ke kehidupan masing-masing. Walaupun kita seringkali bergurau akan masa-masa itu. Nah, sebenarnya aku menginginkan kebersamaan itu lagi. 

Eits, maksudnya kebersamaannya. Hahaha.
Hallo kakak-kakakku ^^ peluk hangat dari adikmu
Hallo Pak Koor hihi
Hallo rekan-rekan, you are rock guys!!

Baiklah, terimakasih kakak-kakakku, terimakasih partai 13 soal nan dulunya nyaris mencapai tahap kegilaan. Haha.

Hei, bagaimana dengan PIK 2016?
*Hening*

6 comments:

  1. wah kekem kenal ajo (ifan rivaldo)? haha ajo itu teman SMP aku kem..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh? iyaa kem? dia satu jurusan sama aku kem, disini panggilannya sih ipang haha
      eh smp mana dulu kem?? *tiba-tiba lupa*

      Delete
    2. Anak pinter tuh si ajo, dulu sih, gatau deh sekarang, haha Spendubel kem.. hahaha :D

      Delete
    3. haha, sekarang pun masih kok kem (semoga aja dia nggak denger hakhak)
      kayak kekem gak pinter aja :p

      Delete