Pages

July 26, 2015

[Review] Intertwine #FLOCK

Intertwine: Takdir yang Berjalin
Judul Buku : Interwine: Takdir yang Berjalin
Pengarang : Fei, Lia, Orizuka, Clara, dan KP Januwarsi
Terbit : Maret 2015
Jumlah Halaman : 420 halaman
Penerbit : Haru
Sinopsis

Berawal dari sebuah bridal, lima wanita menguntai benang-benang kehidupan.

Jihan, yang bercita-cita untuk menikah muda.
Naomi, yang mengikuti kata hatinya untuk bertindak di luar logika.
Emma, yang percaya kisah cinta dalam dongeng juga ada di dunia nyata.
Ralyne, yang berharap pernikahannya akan sempurna.
Nina, yang dihantui oleh potongan-potongan kenangan lama.

Sebuah gaun istimewa hadir di antara mereka, seakan menjadi pemintal takdir.

Dan keajaiban pun terjadi…

Intermezo sedikit : Tada!! Akhirnya aku bisa membaca novel ini hingga tuntas. Butuh waktu yang lama, hingga novel ini sekarang berada dalam genggaman—lebay. Hahaha. Jujur, sekitar tiga bulan yang lalu, hasrat untuk membeli novel ini begitu tak terkira. Setiap mengunjungi Gramedia, aku tak henti-hentinya melirik ke tumpukan novel itu—dengan harapan yang besar novel ini masih dalam stock yang banyak -_-. Singkatnya, selesai lebaran aku baru bisa mendapatkannya setelah berhasil berpuasa membeli buku di gramedia, hmm kurang lebih sejak awal semester empat lalu. Menakjubkan, tepuk tangan!!

Intertwine—Takdir yang terjalin merupakan novel karya FLOCK—Fei-Lia-Orizuka-Clara-KP Januwarsi. Novel ini menceritakan tentang perjalanan hidup lima orang wanita yang mempunyai kisah masing-masing melalui Fairy Bridal—sebuah tempat untuk menyewakan gaun pengantin. Mereka semua akan menguntai kisahnya dengan membawa suatu harapan yang begitu sakral, yaitu sebuah pernikahan.


Kelima wanita itu diceritakan oleh lima penulis yang masing-masing mempunyai ciri khas tersendiri dalam ceritanya. Kisah pada awal novel ini dimulai dengan karya Orizuka berjudul The Right One. Cerita ini berkisah tentang seorang gadis yang bercita-cita untuk menikah muda, namun tak kunjung mendapatkan calon. Suatu insiden menyebabkan ia harus berurusan dengan laki-laki bernama Arkan. Kejadian demi kejadian di antara mereka, dan tanpa disadari mereka merasakan sesuatu.

Sejujurnya, saya cukup terkesan dengan kisah yang ditulis oleh Orizuka. Cerita ringan, tetapi agak absurd mengingat ritsleting gaun pengantin yang dikenakan Jihan tidak bisa dibuka, dan bahkan dengan menggunakan tang sekalipun. Saya sudah menduga siapa yang bisa membuka ritsleting tersebut. Walaupun begitu, saya menikmati kejadian lucu yang terjadi di antara mereka sebelum itu terbuka. Ringan, tetapi cukup membekas di ingatan saya.

Selain itu, saya juga tidak merasa bosan dengan untaian kata yang dihadirkan oleh penulis. Penulis merangkainya dengan sangat apik, sehingga saya bisa dengan cepat mengerti arah cerita.

Cerita selanjutnya hadir dengan judul Premonition yang ditulis oleh Fei. Jika Orizuka menceritakan gadis yang ingin menikah muda, lain halnya dengan cerita yang dibawakan Fei. Ini berkisah tentang Naomi yang tiba-tiba bertindak di luar akal sehatnya hanya karena suatu perintah dari Theo—partner kerjanya. Theo memberikan suatu intruksi pada Naomi untuk mengenakan gaun pengantin, lalu menemuinya di taman Rosemary’s Tea Salon. Semua itu diluar dugaan Theo yang nyatanya Naomi menyanggupi permintaannya yang dengan gamblang hanya untuk hiburan di kala lelah berkerja.

Ini adalah kali pertama saya membaca tulisan dari Fei. Cerita yang ditulis oleh Fei memberikan warna tersendiri karena mengangkat tentang seorang detektif. Jujur, saya cukup tercengang saat Naomi menganggap serius permintaan Theo. Sifat polos yang dimiliki Naomi sangat jelas terlihat, dan saat Theo berakting seolah melamarnya, itu sungguh lelucon yang menyakitkan apabila dilihat faktanya. Tetapi, akhir cerita ini manis.

Awalnya saya sedikit bosan saat alur cerita belum jelas terlihat. Saya bahkan beberapa kali lompat halaman, karena ingin segera berada di klimaksnya. Menurut saya, cukup banyak informasi yang ingin disampaikan oleh penulis, tapi sayangnya membuat saya menjadi bosan. Tetapi, semua itu tidak mengurangi isi dari cerita. Walaupun saya harus melompati beberapa halaman, saya tetap bisa menangkap inti cerita yang disampaikan penulis.

Cerita selanjutnya hadir dari Lia Indra Andriana dengan judul Princess Emma. Berkisah tentang seorang wanita bernama Emma yang mendambakan pasangan hidup seperti pangeran yang sempurna—tampan, berwibawa, tinggi seperti di negeri dongeng. Faktanya ia justeru mendapatkan pasangan yang jauh dari harapannya. Laki-laki itu bernama Satria, tingginya hanga tiga centimeter dari tinggi Emma. Akibatnya, ia harus selalu mengenakan flat shoes untuk tidak terlihat ‘jomplang’. Satria tidak romantis, pelupa, dan apabila sudah menyangkut urusan kerja, ia akan melupakan Emma—tepatnya terlupakan. Sikap tersebut membuat Emma jengah dan meminta untuk mengakhiri hubungannya yang tinggal selangkah lagi ke pelaminan.

Saat perasaannya yang begitu buruk, tiba-tiba saja sosok yang diyakini dari negeri dongeng datang ke kehidupannya. Laki-laki itu bernama Putra. Sosok pangeran yang gagah berani yang dibuat oleh Emma dalam buku sketsanya. Putra adalah pangeran yang selama ini ia dambakan, dan mampu memenuhi segala yang diinginkannya. Tetapi, semakin Emma bersama Putra, gejolak aneh pikirannya tentang Satria tak kunjung sirna. Tanpa disadari, Putralah yang menjadi penghubung rekatnya kembali hubungan antara Emma dan Satria.

Saya tidak tahu karena faktor apa, saya tidak begitu menyukai cerita ini. Dahulu, saat kecil mungkin saya akan sumringah apabila diberikan cerita-cerita seputar dongeng. Tetapi sekarang berbeda. Saat saya dapat dengan jelas membedakan mana yang dongeng dan fakta, saya merasa tidak tertarik untuk mendengarkan kisah-kisah dongeng yang identik dengan kerajaan, putri, pangeran, dan akhir yang bahagia.

Mungkin salah satu faktornya karena saya belum menemukan kecocokan dengan genre fantasi. Walaupun ada beberapa novel yang saya sukai, tetapi tetap tidak semua yang bergenre tersebut saya suka. Hanya novel-novel tertentu saja.

Cerita yang disajikan penulis agak absurd, karena dilihat dari cerita-cerita sebelumnya kemungkinan dapat ditemukan di kehidupan nyata. Tetapi, jika ini menyangkut dongeng, saya rasa akan sulit diterima. Walaupun begitu, ada beberapa bagian saat  setelah Putra menghilang, saya baru merasa bisa menikmati ceritanya.

Cerita selanjutnya hadir dari Clara Canceriana berjudul Perfection. Ini berkisah tentang Ralyn yang mengharapkan pernikahannya akan sempurna. Kurang lebih tiga minggu sebelum pernikahannya, Ralyn bersama pasangannya akan melakukan fitting gaun pengantin. Sayangnya, Evan berhalangan untuk menemaninya karena ada perjalanan bisnis ke Singapura.

Ralyn mengharapkan pernikahan yang sempurna. Oleh karena itu, ia rela harus mengurus segala urusan pernikahannya sendiri. Ia ingin melakukannya, karena hal itu hanya akan terjadi sekali dalam seumur hidupnya. Namun, segala harapannya luluh lantak karena suatu penyakit yang dideritanya. Keluarga pasangan memutuskan untuk membatalkan pernikahannya.

Saya heran, kenapa setiap membaca tulisan penulis yang satu ini, perasaan saya selalu bercampur aduk? Seakan saya selalu hanyut dalam cerita yang ditulisnya. Ini bukan kali pertama saya membaca tulisannya. Sebelumnya saya telah membaca If You were Mine, You are My Sunshine, dan Perfection yang terakhir. Kesan saya setiap membaca karyanya adalah termenung cukup lama. Penulis selalu mampu merangkai kalimat-kalimat dengan baik, sehingga pembaca pun merasa adanya gejolak emosi yang cukup hebat. Sayangnya, ceritanya terlalu singkat hingga saya harus menahan kecewa, karena menantikan sesuatu yang lebih dari cerita ini. Saran yang cukup gila, bagaimana kalau cerita yang satu ini dijadikan novel oleh penulis, sepertinya itu ide yang bagus.

Terakhir sebagai penutup hadir dari KP Januwarsi berjudul Looking Through Rose-Jinted Memory. Cerita ini berkisah tentang wanita bernama Nina yang mempunyai indra keenam. Akibat kemampuannya ia harus berusaha untuk lari dari ‘mereka’ yang ingin tubuhnya. Sayangnya, ia mempunyai suatu perjanjian dengan Katarina—kakak Madam M yang meninggal karena bunuh diri. Katarina telah membantunya dalam mendesain gaun pengantin, dan sekarang saatnya Nina harus menepati janjinya. Hanya permintaan kecil, namun cukup membuat Nina kehilangan Areal—laki-laki yang dicintainya.

Awalnya saya tidak mengerti kemana arah cerita ini. Penulis seolah-oleh hanya berputar-putar dalam menceritakannya. Bahkan, saya harus lompat ke halaman selanjutnya dan berhenti membaca karena kehilangan ketertarikan pada cerita tersebut. Tetapi, saat memasuki bagian ketiga saya baru mulai mengerti arah ceritanya. Saya mulai merangkai satu persatu peristiwa di antara tokoh, hingga saya hanyut dalam ceritanya. Kisah yang disajikan mampu membuat pembaca berpikir, menerka-nerka apa yang terjadi selanjutnya, dan menemukan benang merah dari cerita ini. Cerita yang disajikan oleh penulis menarik. Saya cukup merasakan sensasi yang diberikan oleh penulis mengenai ‘mereka’.

Keseluruhan dari kisah kelima wanita itu bertolak pada satu tempat yaitu Fairy Bridal. Tadinya saya mengira tidak adanya hubungan antara satu kisah dengan kisah yang lainnya. Tetapi saya keliru. Penutup cerita ini menjelaskan semuanya. Jika saya berkesimpulan, cerita ini sebenarnya bermula dari Madam M—Meredith dengan Katarina yang membuka Fairy Bridal. Tujuannya satu, Katarina hanya ingin melihat orang-orang bahagia akan rancangannya. Namun peristiwa yang tidak mengenakan membuat bridal tersebut harus mendapatkan gosip yang tak mengenakanan. Tetapi, setelah masalah antara Katarina dengan mantan calon suaminya selesai, keadaan seolah berubah. Dimulailah kisah dari Jihan dan berlanjut kisah yang lainnya.

Secara keseluruhan, novel ini sangat menarik bagi saya. Kisah yang disajikan oleh penulis kental dengan desain gaun pengantin, yang tidak banyak pembaca mengetahui informasi seputar jenis-jenis gaun ataupun desainnya. Setidaknya, dengan penulis mendeskripsikannya dengan baik, pembaca dapat membayangkan bentuk dari gaun tersebut.

Dari kelima cerita tersebut, saya mempunyai penilaian tersendiri. Tujuannya hanya untuk kepuasaan tersendiri saya melakukan ini. Saya akan mengurutkan cerita yang menurut saya paling menarik ^^

  1. Perfection – Clara Canceriana  
  2. The Right One – Orizuka
  3.  Premonition – Fei 
  4.  Looking Through Rose-Jinted Memory – KP Januwarsi  
  5.   Princess Emma – Lia Indra Andriana
Akhirnya, saya memberikan 3/5 bintang berhubung akhir cerita menjelaskan sesuatu.

No comments:

Post a Comment