Pages

March 15, 2016

[Cerpen] Pertemuan



Aku tidak pernah pergi dengan baik, beranjak dengan baik. Mungkin, itulah kelemahanku. Kehidupanku masih berputar-putar dengan ketidakpastian. Aku masih mengira-ngira, mengucapkan seandainya, lalu beranjak pada keinginan yang mustahil terwujud. Aku tidak tahu ini apa. Apa ini namanya menggantung harap, atau perasaan yang sepenuhnya belum berdamai? Entahlah. Aku berpikir bahwa waktu akan mengobati segalanya. Tetapi hingga detik ini, itu belum terjadi. Mungkin, waktu butuh bantuan dari yang lain, yaitu penjelasan.

Langkahku terhenti. Pandanganku tertuju pada satu arah. Aku melihatnya sibuk mencari keberadaan seseorang. Dia berbicara melalui ponselnya, sambil menunjuk arah yang berlawanan denganku. Apa yang dilakukannya di sini? Aku masih berada di posisiku, tanpa bergerak walau hanya selangkah. Aku tidak tahu, ini sudah begitu lama. Tetapi, jantungku tetap berdegup untuknya. Aku menghela napas, dan berniat tidak menghampirinya. Aku melihat ke arahnya lagi, dan pandangan kami bertemu. Langkahnya terhenti. Dia terkejut melihatku, sama halnya denganku. Dia menutup panggilannya dan pandangan kami masih bersitatap.

Aku ingin pergi, namun langkahku begitu berat. Aku ingin beranjak, namun hatiku terlalu bahagia bertemu dengannya. Aku melihatnya menghela napas...dan berjalan ke arahku. Satu langkah, dua langkah, dan langkahnya semakin cepat...lalu dia berlari.


“Hai.” ucapnya mengawali kecanggungan yang terjadi. Aku hanya membalas sapaannya dengan kata yang sama. Aku bingung, suasana menjadi sangat kaku, seolah-olah pertemuan tak terduga membuat kami kehilangan skenario percakapan.

“Hmm... bagaimana kabarmu?” tanyanya. Aku hendak menjawab dengan jawaban klise yang biasa terdengar “baik”, namun dering ponselnya menghentikan niatku. Dia mengucapkan maaf dan mengangkat panggilan telponnya. Aku mengamatinya dan tersenyum. Pertemuan ini tidak terduga. Karena kurasa ini belum waktunya. Aku menghampirinya.

“Aku harus pergi.”
###
“Astaga, Putih! Kau ingin menjual bunga di rumah ini?” tanya Sania sahabatku. Aku membalas gurauannya dengan senyuman. Aku mempunyai kebiasaan membeli setangkai mawar plastik setiap tanggal 1. Bagiku, satu adalah awal dari segalanya. Aku berpikir bahwa setiap tanggal satu, aku harus menata segalanya lagi.

“Kau masih menunggunya?” tanyanya. Aku tahu, pembicaraan ini mulai serius. Aku selalu ingat, setiap tanggal satu pulalah kami membahas tentang ini. Aku mengangguk. Dia menepuk pundakku, dan tersenyum. Lalu, dia meninggalkanku sendiri di kamar.

“Aku mau ngajar dulu.” ucapnya. Dia berbohong. Hari ini bukanlah jadwalnya mengajar. Tetapi, dia hanya ingin aku sendiri—setiap tanggal 1. Karena bagaimanapun, perpisahan itu terjadi di tanggal satu.

Aku tidak menyadari sebelumnya, bahwa hakikat dari pertemuan adalah perpisahan. Begitu juga perpisahan, akan adanya pertemuan setelah itu. Entah dengan orang yang sama, atau orang yang berbeda. Seharusnya, aku menyadari filosofi ini sedari dulu. Sehingga aku dapat mengerti dengan cepat, mempersiapkan kemungkinan buruk yang terjadi. Sayangnya, aku terlalu hanyut, terlalu menikmati pertemuan, hingga melupakan perpisahan yang menunggu di belakangnya. Akibatnya, rasa sakitnya masih terasa walaupun sudah bertahun-tahun lamanya.

Mari kita jalani hidup masing-masing sekarang, Putih. Mari, kita mengejar mimpi-mimpi kita sekarang dan kesampingkan urusan kita berdua. Mari, kita akhiri pertemuan ini.

Aku ingat kalimatnya, bahkan ekspresinya saat mengucapkan kalimat itu, aku masih ingat. Aku tidak tahu bahwa itu adalah akhir dari pertemuan dan memulai suatu perpisahan. Aku berpikir, bahwa itu hanyalah gurauan belaka yang esok hari, esok lusa akan ada pertemuan yang tertunda. Sayangnya, dia telah memutuskan dan beranjak dari hidupku.

Apabila mengingat bagaimana kondisiku setelah itu, aku akan tertawa. Bagaimana mungkin aku menjadi gadis yang lemah? Bagaimana hanya gara-gara perkara ini aku tidak bisa melanjutkan hidup? Bukan salahnya, karena keputusannya adalah benar. Akulah yang salah. Salah dalam memahami, salah dalam merasa. Kekeliruanku adalah menggantungkan harap terlalu besar padanya. Hanya itu. Waktu membuatku menerima dan melakukan hal yang sama dengannya, menggapai mimpi.

Putih. Kau marah padaku? Kau membenciku? Ketahuilah, aku punya alasan melakukan ini. Jangan membenciku. Suatu saat nanti, kau akan mengerti. Jika kau tidak bisa mengerti, akan kujelaskan. Tetapi, bukan sekarang waktunya. Tunggulah. Selagi kau menunggu waktu yang tepat, maukah kau melanjutkan mimpi besar yang kau dambakan? Lakukanlah sekarang, karena waktu yang tersisa semakin sempit. Dan... aku pun melakukan hal yang sama.

Putih, mari bertemu lagi. Mari bertemu, ketika kau telah resmi menyandang gelar sebagai seorang guru, dan aku sebagai seorang dokter.
###
“Aku harus pergi.” ucapku. Dia menahanku dengan isyarat tangannya. Aku tidak ingin berlama-lama di dekatnya, karena belum waktunya. Aku telah siap memulai pertemuan, karena janjiku telah terpenuhi. Tetapi... dia belum. Masih tersisa beberapa tahun lagi baginya untuk memulai pertemuan itu. Dia mengakhiri panggilan.

“Kau ingin pergi setelah pertemuan tak terduga ini? Tidakkah kau ingin berterima kasih pada takdir?” ujarnya. Dia terlihat gusar dan aku justru tertawa.

“Aku berterima kasih akan pertemuan ini. Setidaknya, pertemuan ini menjelaskan sesuatu.” balasku. Dia memandangku dengan mata menyelidik. Setelah percakapan yang terjadi, kekakuan itu mencair.

“Ini belum waktunya, El. Kau tahu itu kan?” ucapku. Dia seolah menyadari sesuatu. Tatapannya menjadi serius.

Jangan mempercepatnya, karena waktu yang tepat akan datang.
Jangan bertindak, seolah takdir menuntun untuk mempercepat dan mengabaikan konsistensi diri.
Jangan salah kira, barangkali takdir tengah berbaik hati untuk memberi penjelasan.
Jangan salah sangka, boleh jadi takdir hanya memberikan ruang untuk berpikir, apakah tergoyahkan atau tidak?
Jangan mempercepatnya, karena rasanya akan terasa hambar.
Karena hakikat pertemuan adalah perpisahan.
Karena perpisahan mengajarkan apa arti pertemuan.
Karena hakikat perpisahan adalah pertemuan.
Karena pertemuan mengajarkan apa arti perpisahan.
Dan...antara pertemuan dan perpisahan adalah lingkaran untuk mengerti tentang hidup.
Mengerti bahwa tak selamanya bahagia.
Mengerti bahwa tak selamanya nelangsa.

“Baiklah. Aku tahu. Sampai jumpa lagi, Putih.” ucapnya. Aku mengangguk.

“Sampai jumpa lagi, El.” balasku.

Dan... kami pun berjalan dengan arah yang berbeda dan berpisah lagi.
###

2 comments: