Pages

June 21, 2016

[Cerpen] Rabu Kelabu #3



Sekarang hari Minggu dan itulah liburan singkat bagiku. Aku bekerja di toko buku dekat kampus ternama di kota ini. Aku tidak pernah berniat untuk melakukan pekerjaan itu, tetapi sejak kehilangan yang terjadi beberapa tahun silam, mengharuskanku melebur semua mimpi yang tadinya kususun sedimikian indahnya. Aku menghela napas. Dua tahun silam, aku juga memutuskan untuk menarik diri dari teman-teman yang dahulunya berada dalam lingkaranku. Kenapa aku melakukannya? Entah perasaan malu, ataukah ingin berhenti hidup di sekitar mereka, aku tidak tahu. Alhasil, dapat dikatakan aku tidak pernah mengetahui kabar mereka setelah itu. Dan... aku baik-baik saja dengan hal itu.


Toko tempat aku bekerja hanya memberikan satu hari libur dalam seminggu. Sekarang adalah giliranku beristirahat bekerja. Hari ini aku berencana untuk mengunjungi ayah. Sudah sebulan ini aku tidak dapat bertemu dengannya secara langsung. Setiap mengunjunginya, dia tidak pernah di kamarnya. Perawat di sana mengatakan dia dalam masa penyembuhan, dan aku memakluminya. Aku tidak punya waktu yang banyak, sehingga pertemuanku dengan Ayah selalu tertunda. Walaupun aku tidak bekerja di toko, saat libur aku akan bekerja di laundry yang berjarak tiga rumah dari rumah susun berada. Pemilik laundry mengenalku dengan baik. Dia adalah sahabat ibuku, dan tak terduganya aku bertemu dengannya saat pindahan. Aku ingat, betapa dia memelukku dengan erat, dan menangis ketika melihatku.

Aku tahu, hubungan ibuku dengannya tidaklah sesederhana yang dikira. Mereka punya sejarah hidup yang kupastikan hanya mereka yang tahu, betapa indahnya kenangan yang mereka ciptakan. Oleh karena itu, ketika mengetahui kepergian ibuku... dia tak kuasa menahan tangis, terlebih saat mengetahui keadaanku sekarang. Ah, kita tidak selalu tahu misteri yang ada di depan sana. Tanpa prasyarat apapun, dia mengizinkanku membantu usaha laundrynya setiap aku libur bekerja, dan itupun jika aku tidak lelah. Dan aku sungguh berterima kasih padanya karena telah membantuku... karena itu berarti banyak untukku. Aku bergegas mengunci pintu karena takut tidak bisa bertemu dengan ayah lagi.

“Kau mau pergi?” tanya seseorang tiba-tiba. Aku tidak terkejut, karena suara yang begitu kukenal.

“Iya.” balasku sekenanya. Vero menempati kamar 418 yang tepat berada di depan kamarku.

“Mau kuantar?” ujarnya menawarkan bantuan. Aku menggeleng cepat, karena tidak ingin menyusahkannya di hari liburnya. Aku tahu bahwa hari Minggu adalah hari yang selalu ditunggu mahasiswa, karena mereka dapat melepaskan ketegangan pikiran akibat tuntutan-tuntutan tugas ataupun hal lainnya.

“Dah, aku pergi.” ucapku melambaikan tangan kepadanya.

“Mili!!!” teriaknya. Langkahku terhenti dan menoleh ke arahnya. Aku menunjukkan ekspresi ‘ada apa lagi? Aku buru-buru’. Dia terlihat menahan tawa.

“Kau yakin akan pergi seperti ini?” tanyanya yang membuatku tidak mengerti. Dia menarik lenganku dan membawaku ke kamarnya. Astaga, apa yang dilakukannya?

“Nah, lihat! Entah kau sadar atau tidak, bagaimana mungkin kau pergi dengan penampilan seperti ini.” Aku menggertakkan gigi. Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa lupa melepaskan handuk yang tadinya kugunakan untuk mengeringkan rambut. Aku hendak menarik handuk tersebut, tetapi dia mendahuluiku.

“Apa yang kau pikirkan, Mili?” tanyanya sambil pergi menggantungkan handukku di dekat kamar mandi. Aku terdiam. Apa yang kupikirkan? Tidak ada, tetapi ada sedikit pikiran yang mengangguku. Apakah ketika aku nantinya datang, bertemu dengan Ayah... apakah dia akan mengenaliku sebagai anaknya?

Dia kembali dari dapur, dan menyerahkan sisir kepadaku.

“Aku antar kau, Mili.”
###
Aku tidak pernah bercerita masalahku kepadanya, tetapi luar biasanya dia mengetahui hampir semua ceritaku. Gawatnya, kadang-kadang dia seolah dapat membaca pikiranku (atau dia memang bisa membaca pikiranku?). Aku sering berspekulasi yang tidak-tidak. Dia mengantarku sampai tujuan, Rumah Sakit Jiwa. Sebenarnya ketika dia hendak mengantarku, aku berpikir bahwa dia akan menggunakan sepeda. Aku yakin, keputusan mengayuh sepeda dengan jarak puluhan kilometer bukanlah pilihan terbaik.

“Aku tau apa yang kau pikirkan” ucapnya ketika melepaskan sabuk pengaman. Aku melakukan persis seperti yang dilakukannya.

“Aku tidak begitu bodoh harus mengantar kau dengan sepeda, Mili.” ujarnya. “Kemarin malam, sepulang kuliah sepedaku rusak, entah apa yang rusak aku juga tidak tahu. Aku terpaksa menghubungi sekretaris ayahku. Dan... seperti yang kau lihat sekretaris memberikan ini padaku.” jelasnya. Aku paham sekali dia tidak menyukai mengendarai mobil. Alasannya apa? Dia hanya mengucapkan alasan tak masuk akal, bersepeda menjernihkan pikiranku. Lihatlah, alasan yang begitu mudah, tetapi bermakna dalam.

Aku keluar dari mobil sekaligus mengucapkan terimakasih padanya telah mengantarku. Dia hanya mengangguk dan memasang sabung pengaman lagi. Tiba-tiba dia menurunkan kaca pintu mobil, aku mendekat karena suaranya samar terdengar olehku.

“Apa?” tanyaku.

“Pulanglah sebelum larut, aku tidak bisa menjemput kau ke sini. Kau tahu, kawasan di sini agak mengerikan?” sarannya lebih seperti menakutiku.

“Baik, Vero.” balasku terpaksa. Setelah mobil sedan hitam itu meninggalkanku, aku mengulum senyum. Aku tidak pernah menyadari bahwa tindakan-tindakan kecilnya perlahan menyentuh bagian terpenting di hidupku, perasaanku.

Aku melangkahkan kaki menuju kamar 210. Aku tidak perlu bertanya kepada petugas di sana, karena telah menjadi pengunjung rutin di sini. Aku melewati lorong rumah sakit, dan kudengar beberapa kamar mengeluarkan suara teriakan, tangisan, ataupun suara-suara aneh. Aku tersenyum pahit. Apakah ayah juga seperti ini?

“Mili!” teriak seorang perawat kepadaku. Aku tersenyum sambil melambai kepadanya. Lili, itulah nama perawat itu. Aku tanpa sengaja mendapatkan teman selama mengunjungi ayah.

“Ayah kau baru saja dibawa dokter untuk pemeriksaan rutin.” ujarnya. Senyumku hilang.

“Kau mau menunggu?” tanyanya. “Dua jam lagi pemeriksaannya selesai.” sambungnya. Untuk kesekian kalinya aku gagal menemui ayahku. Setiap kunjungan, aku selalu mendapatkan laporan bahwa ayahku tengah diperiksa. Aku tidak begitu hafal jadwal pemeriksaannya, terlebih jadwalku yang tidak menentu. Aku mengangguk, tidak ada salahnya mencoba untuk menunggu. Ponselku tiba-tiba bergetar.

Bagaimana kabar Ayah kau, Mili? Titip salam dariku. Seharusnya kau mengajakku masuk.

Pesan itu dari Vero. 



No comments:

Post a Comment