Pages

December 31, 2016

[Jurnal] Karena Hidup adalah Memberi dan Menerima

Seorang Mario Teguh pernah mengatakan bahwa saat kondisi yang benar-benar tertekan, salah satu bentuk perlindungan dari diri sendiri adalah menganggap bahwa dirilah yang paling menderita. Saya tidak mengingat kapan tepatnya kalimat itu diutarakan oleh beliau, tetapi kalimat itu cukup menjadi pertimbangan bagi saya untuk bersikap. Saya akui, bahwa seringkali kita menganggap bahwa kitalah yang paling menderita, bahkan beranggapan orang lain punya kehidupan yang lebih baik. Bagi saya, pemikiran itu adalah naluriah, hanya saja jika terlalu berkelanjutan akan berdampak sesuatu yang tidak baik. 

Kehidupan seseorang itu sungguh relatif. Di sisi lain, kita dapat melihat betapa indahnya kehidupan seseorang, namun di sisi yang berbeda betapa jatuh bangunnya orang tersebut menjalani kehidupannya. Seringkali kita berspekulasi sepihak, memberi kesimpulan tanpa memikirkan dua sisi yang seharusnya juga dilibatkan. Akibatnya, kita hanya akan mengetahui, melihat sekilas, tanpa benar-benar memahami kehidupan seperti apa yang dijalani oleh orang tersebut.

Setiap dari kita punya masalah, bukan? Besar dan kecilnya masalah tersebut tergantung dari kita melihatnya. Kadangkala kita sering keliru, membesar-besarkan masalah yang sederhana, tetapi justru menyempitkan perkara yang berakibat fatal. Jangan pernah menganggap bahwa kehidupan seseorang itu baik-baik saja, setiap dari kita punya masalah. Perbedaannya hanya pada bagaimana cara mereka menyikapinya. Ada orang yang seolah hidupnya baik-baik saja, tetapi menyimpan beban yang teramat berat. Tetapi ada juga orang yang benar-benar menunjukkan bahwa hidup sedang dalam masalah. Sekali lagi, jangan berspekulasi sepihak. 

Hiduplah dengan bahagia, bahkan ketika masih berjumpa dengan nasi, matahari, dan segelas air itu adalah nikmat yang tak tergantikan. Sang Kuasa memberikan masalah bukan berarti Ia tak sayang, tetapi Ia tahu betapa Ia teramat mencintaimu. Masalah akan selesai dengan caranya, bahkan jika kita tidak mampu lagi menanggungnya, bukankah kita mengenal dengan konsep berbagi? Berbagilah. Jika tidak ada lagi kepercayaan pada makhluk fana, maka berbagilah pada Rabbmu, itulah tempat terbaik untuk mengadu. Percayalah, bagaimana mungkin Rabb akan memahami, mencari jalan keluarnya, jika kita tidak pernah mengadu kepadaNya? 

Apabila kita terlalu sering memutuskan bahwa kitalah yang paling menderita, maka selamanya akan seperti itu. Tanpa kita sadari, pemahaman yang seperti itu akan membuat perasaan ingin selalu dipahami, dimengerti, dan untuk dalam hal apapun menjadi yang utama. Egoiskah? Awalnya tidak, tetapi perlahan 'iya'. Lalu bagaimana dengan yang lainnya? Bukankah hukum alam adalah give and get? Apa yang kita berikan, maka itulah yang kita terima. Apa yang kita tanam, maka itulah yang kita panen. Jika bertanya bagaimana teorinya, saya sungguh tidak tau. Namun yang saya pahami adalah bahwa hidup tidak akan pernah berjalan dengan satu sisi. Harus ada sisi yang memberi, dan menerima. Ini bukan pamrih, bukan. Tetapi, bagaimana mungkin orang-orang akan memahami kita, jika kita sendiri tidak mampu memahaminya? Bagaimana mungkin orang-orang akan menghargai kita, jika kita sendiri tidak dapat menghargai mereka? Nah, seperti itu. Bahkan ketika memutuskan suatu perkara, kita juga butuh minimal dua sisi, kalaupun tidak dari orang-orang sekitar, setidaknya antara diri sendiri dan Sang Pencipta. Begitulah, Sang Kuasa menciptakan keseimbangan. 

Masalah itu ibarat noda, terkesan menghancurkan, tetapi sesungguhnya adalah perjuangan. Jika masalah kecilpun dapat kita atasi, maka masalah-masalah selanjutnya akan teratasi dengan mudah. Setiap dari kita punya masalah, namun semua dari kita berusaha untuk mengatasinya, jangan terlalu larut dengan masalah, karena perjalanan masih sangat panjang. Tidakkah lucu, harus berhenti di satu posisi, karena masalah yang tak kunjung usai? Semuanya kembali pada diri kita, bagaimana cara menyikapinya, karena masalah membentuk kita menjadi pribadi yang lebih bijak. Percayalah. Jika hari ini tidak mampu bersikap, tetapi dengan adanya masalah, esok hari dan esok hari lagi... semuanya akan terasa lancar. 

Saya tidak bermaksud menggurui, namun ini adalah pesan terbaik yang dapat saya tuliskan. Jika kita mencoba untuk menjadi paling menderita, maka semua dari kita akan mengatakan bahwa dirinyalah yang paling menderita, lalu semuanya tidak akan pernah selesai. Cobalah, buka mata lebar-lebar, bukalah hati selebar-lebarnya hingga hanya penerimaan yang akan datang.

Saya selalu diajarkan untuk dapat memilah setiap perkara untuk dijadikan prioritas. Ada beberapa masalah yang memiliki prioritas rendah, sehingga tidak perlu kita sampai mengabaikan tujuan utama hidup kita. Pilah-pilah, mana masalah yang harus kita pikirkan dan yang tidak perlu kita pikirkan. Pilah-pilahlah, jangan sampai karena masalah tertentu membutakan kita, saling melukai hati, dan menimbulkan masalah yang tak seharusnya ada. Pilah-pilahlah. 

Kita memang tidak tau kapan ajal datang, tetapi hidup kita bukan untuk hari ini semata. Perjalanan kita masih panjang, masih banyak hal yang harus kita lakukan sebelum kematian menjemput. Oleh karena itu, mungkin kita harus memulainya dengan bersikap 'melihat dua sisi yang berbeda'.

Pahamilah kondisi orang lain, maka mereka akan memahami kondisimu
Hargailah mereka, maka mereka akan menghargai dirimu
Bantulah mereka, maka mereka akan membantumu
Jagalah hati mereka, maka mereka takkan melukaimu
Ini bukan pamrih, jika pikirmu begitu
Hanya sebagai penyeimbang untuk hidupmu
Karena hidup akan terus memberi dan menerima
Dan begitulah yang seharusnya...


Salam
Penghujung Tahun 2016 17.58

No comments:

Post a Comment