Pages

February 15, 2017

[Review] Tentang Kamu #Tere Liye



Judul      : Tentang Kamu
Penulis     : Tere Liye
Tahun Terbit : Oktober 2016
Jumlah Hal : 524 Halaman
Penerbit    : Republika

Sinopsis

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita. Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi. Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan. Atas dasar pekerjaan, Zaman Zulkarnaen harus menelusuri hidup seorang kliennya, perempuan pemegang paspor Inggris yang barusan meninggal dan mewariskan harta yang jumlahnya bisa menyaingi kekayaan Ratu Inggris. Tiga negara, lima kota, beribu luka. Hingga akhirnya Zaman mengerti, bahwa ini bukan sekadar perkara mengerti jalan hidup seorang klien, melainkan pengejawantahan prinsip kuat di tengah cobaan yang terus mendera. Tentang Kamu adalah novel terbaru Tere Liye. Sebuah karya yang tak hanya akan membawa pembacanya menyelami sebuah petualangan yang seru dan sarat emosi, tapi juga memberikan nilai positif sehingga membuat hidup serasa lebih patut disyukuri.
Saya tidak menyangka akan menyelesaikan novel ini dalam kurun waktu dua hari. Awalnya, saya berencana untuk membawanya bersama ke Kota Jam Gadang, nyatanya saya justru menamatkannya sebelum hari itu tiba. Saya tidak tau, apakah tulisan ini nantinya dikenal dengan review. Sudah lama sekali saya tidak menulis dalam konteks cuat-cuat yang tak jelas (Haha). Kebetulan hari ini—sedang libur Nasional—jadi saya mencuri waktu sejam kurang lebih untuk mengetik kalimat yang belum tau ujungnya kemana. Pertama, saya berterimakasih pada junior saya—seorang penggemar Tere Liye (Haha, lirik Ami ^^karena saya tau harga novel ini tidaklah murah :’)). Baiklah, mari lupakan tentang cuap-cuap aneh saya.

Tere Liye mengeluarkan karya terbaiknya—lagi dengan judul “Tentang Kamu”. Sekali lagi, jika tadinya saya seorang pemula untuk membaca karya-karya beliau, maka jelas sudah saya tertipu dengan judulnya. Sama seperti novel lainnya yang berjudul “Rindu”, tentunya orang-orang akan berasumsi bahwa penulis akan menyajikan romansa-romansa klise. Sayangnya kita semua keliru. Baik itu tentang “Rindu” maupun “Tentang Kamu”, judul ini memiliki konteks yang berbeda—maksudnya makna yang berbeda—dalam artian yang lebih luas dan tentu saja sangat dalam.

Pada awal cerita, penulis mengajak pembaca mengenal sosok Zaman Zulkarnaen—yang saya sudah langsung menduga karakter seperti apa yang diinginkan oleh penulis. Zaman adalah bekerja sebagai seorang pengacara di salah satu firma hukum terkemuka di Kota London. Firma hukum yang berbeda dengan firma hukum lainnya dengan prinsip kejujuran, dan tidak berkhianat. Jujur, awal saya membuka novel ini saya merasa inilah kali pertama untuk membacanya hanya sampai pada halaman 10. Setelah itu, saya menutup buku dan melanjutkan aktivitas lainnya. Rasanya terlalu berat saya mencerna atau karena pengaruh otak saya yang dalam keadaan tidak stabil? (eh-.-). Tetapi, esok harinya saya kembali seperti biasa—hanyut dengan cerita yang disajikan oleh penulis yang berujung tidak bisa berhenti. Saya ingin tau penyelesaian seperti apa yang dihadirkan oleh penulis kali ini. Entahlah, sejak membaca beberapa karya beliau, saya cenderung ingin tau ending seperti apa yang dihadirkan, bukan lagi tentang apa cerita yang diberikan.

Mungkin pada awal cerita, penulis sengaja menjelaskan tentang latar belakang dari si tokoh utama—Zaman, sehingga beberapa halaman saya justru melompat. Namun, ketika pada bagian penulusuran jejak kehidupan Sri Ningsih… saya baru memasuki petualangannya, dan saya menikmatinya.

Novel ini bercerita tentang Sri Ningsih—seseorang yang meninggalkan harta kekayaan dengan jumlah fantastis, namun tidak memiliki wasiat hingga di akhir hayatnya. Nah, disinilah peran dari Zaman, firma hukum yang memperkejakannya merupakan firma yang mengurus hartanya setelah kematiannya. Zaman memulai investigasinya dengan menelusuri jejak kehidupan yang ditinggal oleh Sri Ningsih.

Saya tau, bahwa setiap novel Tere Liye sarat akan makna, pesan-pesan moral yang kental, dan cerdas seseorang dalam menyikapi setiap kejadian. Meskipun setelah menamatkannya, saya masih berpikir ada hal yang terasa kurang oleh saya—bukan tentang ceritanya, namun tentang kekhasan dari penulis itu sendiri. Saya tidak tau itu apa, namun rasanya ada yang mengganjal setelah menyelesaikan buku ini. Tetapi, terlepas dari itu…

Apabila berbicara tentang orangtua, saya akan membaca lamat-lamat tanpa melewatkan satu katapun. Saya suka bagaimana penulis menjelaskan pentingnya hubungan Ibu dan Anaknya, betapa penting bakti seorang anak, santun seorang anak, cinta kasih seorang anak kepada ibunya. Bahkan ketika Zaman mengunjungi panti jompo—lalu tiba-tiba ada seseorang kakek yang mengira dia adalah anaknya (karena sudah pikun), Zaman hanya mengiyakan dan membalas pelukan dari orangtua tersebut (dengan berpura-pura menjadi anaknya). Ah, saya tersentuh. Bahkan ketika hubungan darahpun tidak perlu agar kita dapat menghormati dan memberikan bentuk rasa kasih kepada mereka. Bagaimana? Sepenggal kisah itu baru pada bagian awal di novel ini, separuh pun belum sampai.
“Tunggu sebentar, Tuan Zaman.” Aimee berseru. Zaman menoleh, langkah kakinya terhenti. Ada apa?
“Aku menyaksikan kejadian di lantai dua barusan. Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Tentu saja boleh.”
“Apakah kamu sungguh-sungguh akan mengunjungi Maximillien lagi, atau itu hanya basa-basi agar dia melepaskan pelukan dan kamu bisa pergi?” Zaman menatap Aimee tidak mengerti,
“Tentu saja aku sungguh-sungguh.”
“Tapi dia bukan siapa-siapa kamu?” Aimee menatap ingin tahu.
“Memang bukan. Tapi tempat ini telah memberikan pengalaman menarik dua jam terakhir, membuatku belajar banyak hal baru. Selain bagiku, janji adalah janji, setiap janji sesederhana apa pun itu, memiliki kehormatan…” – halaman 45.

Sebenarnya hampir beberapa jam yang lalu, saya seolah-olah berkelana bersama sosok Zaman, pergi ke Sumbawa, Surakarta, lalu ke Jakarta, dan dengan segera terbang ke London. Ah, betapa menyenangkannya membaca novel ini… saya benar-benar ikut dalam petualangan seorang Zaman. Apabila melihat karakter dari Sri Ningsih—saya serasa melihat sosok Fahri dalam novel Ayat-ayat Cinta 2—terlalu sempurna, dan jika menemukan sosok semacam itu—saya merasa beruntung dan luar biasa.
“Aku ingin sekali punya hati seperti miliknya. Tidak pernah membenci walau sedebu. Tidak pernah berprasangka buruk walau setetes…” – halaman 206.

Saya tau, ini hanyalah fiktif belaka. Penulis pun punya tujuan menghadirkan karakter-karakter yang terkesan sempurna—agar pembaca setidaknya dapat mengambil hal baik dari mereka.

Kenapa novel ini berjudul Tentang Kamu? Inilah bagian yang indah dalam kehidupan Sri Ningsih, meski berujung perpisahan yang tak terelakkan. Sri Ningsih menemukan pelabuhan terakhir hatinya saat dia bekerja sebagai sopir bus di London. Saya selalu percaya bahwa, hal-hal sederhana justru meluluhkan hati banyak orang.

Ah, saya tidak begitu lihai dalam mengulas tentang novel ini. Tetapi, dalam novel ini tetap menghadirkan tokoh antagonis. Saya belajar, bahwa betapa menakutkannya suatu kebencian. Awal mulanya hanya iri, dengki, kebencian, dan berujung pada balas dendam yang mengerikan.

Saya sudah menebak setiap alur yang terjadi, dan antara sedih dan senang. Sedih karena sensasi dalam membaca menjadi berkurang—senang karena tebakan saya benar. Selain itu, ada beberapa hal yang kurang memberikan perasaan emosional yaitu ketika ibu Sri Ningsih meninggal, dan saat ‘Rahayu’ dan ‘Nugroho’ yang meninggal akibat rhesus yang berbeda. Bagian terbaik yang saya suka yaitu ketika Hakan menaiki bus yang dikemudikan oleh Sri Ningsih. Ah, cerita ini sebenarnya sangat klise, tetapi kenapa penulis dapat menceritakannya dengan sangat ‘lembut’? Ada lagi, saya suka unsur kekeluargaan yang dibangun dalam novel ini, sungguh kental terutama dengan keluarga Khan. Indah rasanya, tidak ada hubungan darah apapun, tetapi karena insiden sederhana (kesan pertama), seseorang bisa begitu sangat baik. Maka catatannya 😃 berikanlah kesan terbaik dengan siapapun… kita tidak pernah taukan apa yang akan terjadi kelak? Setelah membaca novel ini, saya jadi berkesimpulan bahwa menjadi seorang pengacara itu sungguh menyenangkan (yaa) jika memegang teguh prinsip-prinsip kebenaran (ah, berandai-andai -___-). Sepertinya saya mulai ngelantur dari topik awalnya, tunggu saya masih mengingat bagian-bagian terbaik dari buku ini (Saya agak sedikit lupa, Ya Tuhan!). Sudah saya akan mengakhiri tulisan ini dengan baik…saya memberikan 4/5 bintang dengan alasan yang saya tidak tau kenapa tidak memberikan 5 bintang 😃

Selamat membaca (direkomendasikan) Ah yaa, saya harus melanjutkan misi menyelesaikan Tugas Akhir sambil menyudahi semua timbunan buku, mohon doanya :’)

Salam

1 comment:

  1. Tere Liye memang selalu menjadi penulis favorit saya. Lewat novel yang berjudul tentang kamu ini, kita disuguhkan oleh kisah hidup ningsih yang menurut saya penuh perjuangan, kisah tragis dan sedih, yang mana sangat layak untuk dijadikan sebagai tauladan. Aku suka banget sama novel ini, huhuhuh

    ReplyDelete