Pages

August 19, 2015

[Jurnal] Enam Menuju Tujuh Tahun, Kawan



https://careeryenta.files.wordpress.com/2013/06/friend1.jpg
Kawan, ini sudah memasuki tahun keenam, dan nyaris memasuki tahun ketujuh, bukan?

Malam ini, kuputuskan untuk kembali memanggil memori-memori masa lampau, yang telah terkubur oleh waktu. Sudah lama sekali niat untuk menulis kisah ini, namun seringkali hal-hal sepele mengalahkannya. Semoga saja malam ini aku dapat menyelesaikannya dengan baik.

Siapa dia? Aku tidak ingin memperkenalkannya dengan jelas, karena kuyakin—kemungkinan besar dia akan ‘mencak-mencak’ kepadaku. Hahaha.
Baiklah, dia gadis yang pertama kali kukenal, saat aku duduk di bangku delapan. Lucu memang, karena pertemuan awal yang terkesan biasa, tak pernah terbayang bahwa hingga detik ini aku masih berhubungan baik dengannya. Aku ingat, saat itu kita duduk bertiga. Dengan urutan dari ujung: aku, temanku (teak, apa kabar sekarang dia?), dan dia tepatnya paling pojok di dekat dinding. Anehnya, dia seolah tak acuh terhadap kehadiranku. Ia sangat-sangat pendiam awalnya, hingga aku pun bingung harus berkata apa. Haha. Tapi, siapa yang tahu, beberapa minggu setelah itu? Yap, kita pun berteman baik sejak itu. Aku juga tidak mengerti, kenapa bisa dekat dengannya, dan bercerita panjang lebar dengannya, haha. Padahal, tahulah awalnya dia-sangat-pendiam-susah-diajak-ngomong-,wkwk.

Aku ingat saat hari kelahiranku. Aku tidak menduga, bahwa di dalam tas akan terdapat sebuah kado. Dia memasukkannya diam-diam tanpa sepengetahuanku. Sebuah jam weker biru muda dan sebuah tulisan. Hei, aku masih menyimpan selembar kertas itu dengan baik. Terimakasih, dan maaf atas segala yang tak pernah terbalas dengan sepadan, hingga detik ini.

Kita terus berteman, berbagi cerita, dan saling memotivasi. Hingga duduk di kelas sembilan, kita tetap bersama. Parahnya, seringkali kita dikatakan kembar—mungkin karena terlalu sering bersama, hmm.

Aku ingat, saat waktu tertentu kita seringkali menghabiskan waktu pergi ke Gramedia ataupun Sari Anggrek. Jika kita hanya berdua, sepanjang perjalanan—dari sudirman menuju damar, kita sering berbalas argumen tentang topik yang tidak disadari hadir begitu saja. Mungkin karena berteman denganku, dia juga ketularan membeli novel saat itu. Haha.

Astaga, aku kesulitan untuk menulis tentang ini :’)

http://www.growonlinemarketing.co.uk/wp-content/uploads/2015/05/friends.jpg

Aku ingat, beberapa jam sebelum gempa dahsyat melanda Kota Padang. Hari itu kita pergi untuk meminjam buku di perpustakaan daerah. Perjalanan menuju pasar kita habiskan kembali dengan cerita ringan, hingga suatu kata terlontar—yang aku lupa itu dari mulut siapa, “Kalau terjadi gempa di sini, bagaimana ya?”. Tak terduganya, sore hari kira-kira pukul lima—setengah jam setelah aku tiba di rumah, gempa itu terjadi.

Aku ingat, dia tak datang pada hari perpisahan. Padahal, momen itu begitu kunantikan bersamanya.

Suatu ketika kita harus berpisah karena keadaan tak mengizinkan. Aku memasuki sekolah yang berbeda dengannya saat SMA. Kita sudah berusaha untuk mewujudkan keinginan untuk terus bersama. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Jujur, saat itu aku memang merasa jatuh, tidak terbayang bagaimana menyakitkannya saat itu. Namun, ada satu momen yang hingga sekarang begitu melekat di ingatanku. Saat hari pengumuman itu keluar, aku hanya terduduk lemas, tanpa ekspresi, dan berusaha untuk berlapang dada. Anehnya, dia yang justru mengeluarkan ekspresi emosional yang tertahan—yang seharusnya itu keluar dariku. Kenapa dia melakukannya? Kalimatnya, kurang lebih seperti ini “Karena etak gak lulus, kita pisah, kita gak bisa bareng-bareng lagi”. Aku terdiam. Rasa-rasanya ingin... haha, lupakan. Semuanya sudah berlalu.

Aku ingat, pernah menghabiskan waktu bersamanya, sebelum kita benar-benar berpisah sekolah. Hari itu matahari begitu terik—dan dalam keadaan berpuasa. Aku menemaninya ke pasar, dengan tujuan aku lupa untuk apa. Yang jelas, kita mengitari pasar, berjalan hanya sekedar untuk melihat-lihat, dengan semboyan ‘nikmati hari ini’. Alhasil, aku terkapar setelah tiba di rumah.

Setelah itu, bisa dikatakan pertemuan kita tak se-intens dahulunya. Kita tetap bisa bersua, namun hanya sesekali. Itupun kalau kita sama-sama punya waktu kosong. Yah, inilah yang selalu salah dariku. Kadangkala aku mengabaikannya tanpa kusadari. Namun, kadangkala aku pun begitu ingin bercerita panjang lebar dengannya. Aneh memang.

Dia sering ke rumah. Menghabiskan waktu hanya untuk sekedar cerita ringan. Bermain komputer, makan, dan aku pernah mendapatinya ketiduran di rumahku. Kalau dahulunya semua itu terlihat biasa, namun sekarang menjadi memori baik untukku.

Orangtuaku bahkan sudah menganggap dia layaknya anak, mempercayainya untuk menjadi teman dekatku. Aku ingat, saat tiba-tiba dia mengajakku pergi ke resepsi gurunya di waktu SD. Tunggu, jangan mengira dia mengajakku di hari Minggu -__-. Kesannya seperti pergi malam mingguan, haha. Dia mengajakku Sabtu malam sehabis magrib. Ide itu cukup gila, dan sangat kuyakini tidak akan mendapat izin. Tetapi, siapa sangka? Ayahku mengizinkannya. Jadilah kita pergi ke sana. Namun sebelumnya kita harus membeli kado terlebih dahulu. Bayangkan, kado sudah ada, membungkus kadonya pun bingung harus kemana. Syukurnya, ada toko dekat rumahku yang dapat melakukannya. ^^

Ini bukan tentang pernikahannya. Tetapi seperti sebagian kebahagiaan kurasakan malam itu. Cukup ekstrem memang. Aku sungguh menikmatinya. Seperti yang kukatakan sebelumnya, ini seperti malam mingguan. Hahaha. Hei, aku masih waras. Tahukah aku sampai di rumah jam berapa? Rahasia. Yang aku khawatirkan adalah dirinya, karena rumahnya sangat-sangat jauh, cendana mata air—dan saat itu malam hari. Alhamdulillah, dia selamat, wkwk.

Saat hari kelulusan SMA, kita lulus. Namun, saat pengumuman SNMPTN, SBMPTN, kita memang seolah-olah putus kontak. Aku mengerti kenapa dia tak mau menghubungiku. Aku paham perasaannya, dan kubiarkan agar nantinya dia yang akan menghubungiku. Sebelum memasuki perguruan tinggi, aku sungguh melihatnya jatuh bangun. Dia mencoba mengumpulkan harapan, dan berharap akan lulus di suatu tempat. Bayangkan, SNMPTN tidak lulus, SBMPTN tidak lulus, SIMAK UI juga tidak. Tetapi, perjuangan terakhir ini membuahkan hasil. Selalu ada hikmah atas segalanya, karena Tuhan selalu tahu tempat terbaik untuknya. Dia lulus di STAN. Betapa mengagumkannya ^^

Dia pergi, dengan jarak yang semakin jauh dariku.

Sehari sebelum keberangkatannya ke Jakarta, dia mengirimiku pesan singkat untuk  menemui guru les matematikanya. Aku baru saja dalam perjalanan menuju rumah. Aku mengiyakannya. Perjalanan singkat untuk kedua kalinya—sebelumnya aku diajak les gratis dengannya—sekedar menemaninya les. Sekali lagi, orangtuaku mengizinkanku pulang malam dengannya. Malam itu, sungguh aku menangis untuknya. Tak terbayang waktu begitu cepat berputar, dan mengharuskan  keadaan seperti ini. Aku menyesal karena tidak banyak menghabiskan waktu bersamanya sejak duduk di bangku SMA. Sungguh. Namun benar kata orang-orang bijak, kita baru menyadari kehadiran seseorang saat dia telah pergi.

Setelah itu, mungkin karena kesibukan masing-masing, kita merenggang. Jarang berkirim kabar, atau sekedar bercerita ringan. Syukurnya kita selalu bisa kembali seperti semula. Lambat laun, kita mengerti kesibukan yang terjadi.

Hingga detik ini, hubungan itu tetap terjalin dengan baik. Bahkan, kini justru lebih banyak berkomunikasi, bercerita panjang lebar, dan saling menguatkan. Aku harap itu akan tetap baik-baik saja.

Baiklah, apalagi yang harus kuceritakan?

Satu hal. Aku minta maaf atas novel yang tanpa sengaja kubasahkan. Hari itu hujan turun begitu lebat, dan aku lupa bahwa aku membawa novel ke sekolah. Akibatnya, novel itu basah kuyup. Namun begitu, novel itu dalam kondisi yang baik sekarang. Walaupun yaa dengan kertas yang tak ‘cantik’ lagi. Janji itu belum kupenuhi hingga detik ini. Katakan padaku, apa yang diinginkan sekarang ini—dalam konteks terjangkau olehku—dan jangan minta novel—karena sudah pasti aku akan tergiur untuk membacanya—katakan saja, aku merasa bersalah :’(

Apalagi?

Dua tahun di bangku SMP itu terlalu banyak kisah.
Tiga tahun di bangku SMA terlalu sedikit kisah yang terjadi.
Memasuki tahun ke-tiga di bangku perguruan tinggi, kisah yang terjadi hanya melalui telepon genggam.

Aku menyakini, bahwa dia-selalu-berusaha-untuk-selalu-meraihku.
Maafkan aku.
Hanya itu yang teringat olehku. Aku payah akan hal ini.
Maafkan aku.

Dia teman dekatku. Pribadi diluar terlihat ‘biasa-biasa saja’ tetapi di dalam begitu luar biasa. Dia cerdas, tetapi sedikit pemalas—damai ^^. Dia berhati lembut tetapi begitu sensitif, jangan coba-coba melukai perasaannya, karena dia akan, hmm. Dia mempunyai tekad yang luar biasa. Namun seringkali ragu akan potensi di dalam dirinya. Padahal, sejauh aku mengenalnya, dia mempunyai banyak potensi yang belum terlihat. Percaya dirilah ^^ Aku yakin dia bisa melakukannya.

Apalagi?
Terimakasih telah menjadi teman baikku hingga tahun ke-tujuh ini.
Terimakasih telah mau menerima segala kekuranganku.
Terimakasih karena selalu memaafkanku.

Mirisnya, hingga detik ini kita tak mempunyai foto bersama. Haha. Dahulu aku tidak begitu peduli dengan ini. Tetapi lambat laun aku merasa membutuhkannya—setidaknya menjadi penanda. Haha. Baiklah aku harus berhenti untuk ‘mele-mele’.

Apalagi?
Semoga kita dapat bertemu suatu hari nanti, InsyaAllah.
Semoga kita dapat mewujudkan mimpi-mimpi besar yang didambakan, Amiin Ya Rabb.
Semoga hubungan ini akan terus terjalin, hingga masa yang tak memungkinkan lagi itu terjadi^^
                                                                                                                                             
Terimakasih.
Salam hangat, dari kota yang kau tinggalkan dua tahun silam.

No comments:

Post a Comment