Pages

February 7, 2016

[Cerpen] Akankah Bertemu Lagi?

“Assalamu’alaikum.” sahut seseorang di luar sana. Suaranya terdengar tak asing untukku. Aku menjawab salamnya, dan ayah mengisyaratkan kepadaku untuk membuka pintu. Aku berjalan ke arah pintu. Langkahku ringan sekaligus jantungku berdegup kencang. Apakah dia kembali? Itulah pertanyaan awal yang muncul di benakku. Aku menarik engsel pintu dan seseorang yang kukenali berdiri di depanku. Dia mengenakan pakaian seragamnya—hijau, lengkap dengan baret di kepalanya.

“Ayahmu ada, Kuntum?” tanyanya.
###

Dika. Namanya Dika. Aku dan dia adalah orang asing yang bertemu oleh kejadian tak terduga. Sebelumnya aku tidak mengenalnya, begitu juga dengannya. Takdir sungguh tak terduga. Kadangkala aku menyangkal bahwa itu adalah takdir, dan menganggap hanyalah kebetulan belaka. Namun, lambat laun aku meyakini bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Kebetulan-kebetulan tak terduga itu sebenarnya takdir.

Hari itu... mungkin Tuhan punya rencana lain mempertemukanku dengannya. Aku ingat, kejadian itu telah terjadi sekitar tujuh tahun lalu—masa ketika aku masih menyelesaikan studi kependidikanku.

Aku selalu pulang sendirian. Bukan karena aku tidak ingin bergaul dengan yang lain, atau sekedar pulang beriringan bersama. Hanya saja, tidak seorangpun mempunyai rute yang sama denganku—sejauh yang aku kenal. Oleh karena itu, seringnya aku berjalan sendiri dan menikmati pikiran-pikiran yang lalu lalang di otakku.

Hari itu... aku pulang terlambat. Biasanya sebelum azan magrib berkumandang, aku sudah menanti bus di depan halte. Tetapi, hari itu aku justru pulang setelah menunaikan sholat magrib di mesjid dekat kampus. Bukan kehendakku berlama-lama di kampus, namun ada tugas yang harus kuselesaikan bersama dengan teman yang lain. Aku berjalan di sekitar trotoar, lalu melangkah perlahan ke arah rel kereta api dan melakukan kebiasaan konyolku—menghitung jumlah besi yang terpasang di sana.

Tiba-tiba seseorang berjalan beriringan di sampingku—tepat di sampingku. Aku menoleh ke kanan, melihat sosoknya. Aku nyaris terjatuh sebab dia juga menoleh ke arahku. Aku memalingkan wajah—malu, dan menunduk—sibuk menghitung kembali—walaupun sebenarnya bukan itulah yang kulakukan.

Otakku sibuk bertanya-tanya, siapa laki-laki di sampingku ini? Aku tidak mengenalnya, bahkan pernah melihatnya saja tidak. Apa dia berniat buruk kepadaku? Bukan aku hendak berprasangka buruk, tetapi sikap berhati-hati juga diperlukan ditambah kondisi jalanan yang gelap. Aku mempercepat langkahku, memastikan laki-laki itu berniat menguntitku atau tidak. Sayangnya, dia justru kembali mengimbangi langkahku. Aku mulai gelisah, dan takut.

“Jalan saja seperti biasa. Seseorang mengikutimu di belakang.” Dia angkat bicara. Sepertinya dia tahu kegelisahanku.

“Eh?” Aku menoleh kepadanya tak mengerti. Tetapi, ucapannya barusan membuatku lega.

“Pertama, aku tidak berniat buruk padamu, jadi jangan curiga. Kedua, kamu sedang diikuti dari tadi sejak keluar mesjid. Ketiga, mari kita seolah-olah saling kenal. Setidaknya dia tidak akan macam-macam kepadamu.” Aku menggigit bibir bawahku, takut kemungkinan yang terjadi setelah ini. Sekali lagi, seperti dia dapat membaca pikiranku.

“Kamu pulang naik apa? Naik bus?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Halte sudah dekat. Kebetulan ada bus yang berhenti sekarang. Kedepankan tasmu dan segera naik ke sana. Duduk dekat supirnya kalau bisa.” Aku mengangguk lagi tidak tahu harus berkata apa.

Penasaran, sebelum memasuki bus aku menoleh ke belakang. Aku melihat sosok laki-laki mengenakan topi zebo, kaus oblong dengan jins robek-robek  ala punk. Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena gelap. Namun, penampilannya seperti itu sudah cukup membuatku takut. Aku memasuki bus dan duduk di dekat supir seperti yang disarankan laki-laki tadi.

Satu menit... dua menit... bus tetap menunggu penumpang. Lima menit setelah itu, bus menutup pintu dan melaju dengan pelan. Aku menepuk jidatku, melupakan sesuatu. Aku melihat ke bangku—tempat laki-laki biasanya diizinkan duduk di bus ini. Dia tidak ada—maksudku laki-laki yang membantuku tidak ada, dia tidak menaiki bus bersama denganku.

Aku lupa... berterimakasih padanya.
###
Beberapa hari belakangan ini, aku sibuk mencari keberadaan laki-laki itu. Aku hanya tidak enak karena belum berterimakasih padanya. Entahlah, mungkin karena terbiasa mengucapkan kalimat klise itu apabila ditolong seseorang, menyebabkan pikiranku terganggu.

Akankah bertemu lagi? Pertanyaan itu semakin hari semakin kuat di benakku.
Apakah itu cuma kebetulan, sehingga tak perlu ada perjumpaan keduakalinya?

“Kuntum, buatkan tamu ayah teh.” suara ayah membuyarkan lamunanku. Aku menyahut dan segera bergegas ke dapur.

“Siapa tamu ayah, Bu?” tanyaku iseng.

“Itu... anaknya Pak Hafiz.” jawab ibuku sekenanya.

“Eh? Kok anaknya yang bertemu ayah?” tanyaku lagi, terlebih penasaran.

“Ya ampun, Kuntum. Sejak kapan kamu banyak bertanya? Ada sesuatu yang menganggu pikiranmu belakangan ini?” tanya ibu. Aku... kena telak. Aku menggeleng cepat dan segera mengantarkan minuman yang disuruh ayah. Aku meletakkan minuman di atas meja sekaligus mencuri pandang tamu ayah. Ayah selalu melarang melihat tamunya. Kalaupun diizinkan, hanya orang-orang tertentu. Aku lupa untuk menunduk. Aku tahu ayah akan memarahiku setelah ini. Ayah melarangku menatap tamu ayah—karena tamu ayah tentunya laki-laki, kecuali yang diizinkannya.

Akankah bertemu lagi?
Apakah itu cuma kebetulan, sehingga tak perlu ada perjumpaan keduakalinya?

Dia... di sini. Sebagai tamu ayahku.

Aku segera menunduk, karena ayah sudah melihatku dan akan menceramahiku setelah ini. Namun, siapa sangka kebetulan itu terjadi lagi. Pertanyaan terbesarku, apakah ini sekedar kebetulan?
###
“Dia datang bersilaturrahmi, Kuntum.” ucap ayah tiba-tiba. Sendok yang tadinya hendak kumasukkan ke mulut tertahan di udara. Aku tidak bertanya dan juga tidak membicarakan hal ini dengan ayah. Walaupun selepas dia pergi, ayah memarahiku. Sama seperti sebelumnya, kalimatnya selalu sama, “Jaga pandanganmu, Kuntum. Tak baik menatap seperti itu.”

“Kamu mengenalnya?” Selanjutnya, aku tersedak. Ibu menepuk-nepuk punggungku pelan.

“Pak, nanti saja ditanya. Setelah makan.” ucap ibu. Aku pikir, ayah lupa. Tidak biasanya kami makan dengan percakapan.

Setelah makan... aku berpikir akan terbebas dari pertanyaan ayah, nyatanya ayah justru mengajakku duduk dengannya. Aku menghela napas.

“Kamu mengenalnya?” tanya ayah dengan pertanyaan yang sama.

Aku tidak punya pilihan. Aku menceritakan semuanya tanpa kurang sedikitpun. Ayah hanya menghela napas setelah aku bercerita. Lalu, ayah tertawa. Tidakkah ini aneh? Aku sudah takut setengah mati akan dimarahi lagi, ayah justru menanggapiku dengan tawa.

“Ayah keduluan dengan takdir, Kuntum. Haha.” ujar ayah ringan. Ayah menepuk pundakku dan masuk ke kamar untuk tidur. Aku bingung, apa maksudnya?
###
Aku Dika. Ayahmu takkan mengizinkan kita bersua, berbincang hangat apalagi. Bisa-bisa ayahku justru memarahiku. Tapi, aku menyukai cara ini. Ayahmu mengizinkanku mengirim surat padamu. Entahlah, mungkin karena aku terbiasa dilatih menulis oleh ayahku sejak kecil, aku malah menyukai cara ini. Terdengar kuno memang. Terlebih, saat orang-orang sibuk bertukar kabar melalui handphone dan sejenisnya, aku justru mengirimimu surat. Aku harus mulai dari mana? Pertama, aku tidak menyangka jika orang itu adalah dirimu. Pertemuan kita sebelum ini, aku tidak menyebutnya kebetulan. Tetapi, itu adalah takdir.

Aku tersenyum. Itu adalah surat pertama yang kuterima darinya. Ibu memberikan surat itu padaku sambil tersenyum penuh arti.

“Banyak-banyak berdoa, Kuntum.” ucap ibuku setelah memberikan surat itu. Sekali lagi, aku tak mengerti maksudnya.
###
Aku selalu percaya, bahwa gembok takkan pernah tertukar oleh kuncinya, Kuntum. Aku lulus akademi kemiliteran, Kuntum. Kurang lebih empat tahun pendidikanku di Magelang. Aku tidak tahu ini berita baik untukmu atau tidak. Aku sudah membicarakan ini pada ayahmu, dan dia setuju untuk melepaskanku. Aku tidak ingin mengikatmu, Kuntum. Kalau selama empat tahun itu, kamu bertemu dengan orang yang lebih baik, maka terimalah setelah berkonsultasi denganNya. Pilihanmu juga berada di tanganNya. Jika tidak ada yang mendatangi ayahmu selama itu, maukah menungguku kembali?

Aku menangis. Untuk pertama kalinya aku menangis karena masalah ini. Ayah mengajarkanku dengan baik, termasuk menata hati sedimikian rupanya. Namun, untuk sekarang ini aku tidak cukup mampu menata hatiku dengan baik. Ibu memasuki kamarku. Dia memelukku dan aku menangis di pelukannya.

“Kuntum, percayalah umur, jodoh, rezeki sudah diaturNya dengan baik. Jangan sedih, ambil hikmahnya. Berdoalah dan semoga Allah memberikan jawaban terbaiknya kelak.” ucap ibu. Dia melepaskan pelukannya dariku dan menghapus air mataku.

“Empat tahun bukan waktu yang singkat, Kuntum. Pikirkan dengan baik, Nak.” Ibu menguatkanku dan meninggalkanku sendiri di kamar.

“Tapi, selama itu... membaikkan diri, adalah cara terbaik menemukan jawabannya, Kuntum.” saran ibu sebelum menutup pintu kamarku.
###
“Ayahmu ada, Kuntum?” tanyanya kedua kalinya. Lamunanku buyar. Aku mengangguk dan mempersilahkannya masuk. Setelah itu, hanya ada ayah dan ibu bersamanya di luar. Aku hanya mengintip dari balik tirai ruang tengah. Aku hanya mendengar percakapan mereka sedikit, terlebih tentang Dika yang telah lulus akademi.

Perasaanku campur aduk. Enam tahun, bukan empat tahun... dan dia kembali.  Jika bertanya, apakah ada yang mendatangi ayahku selama itu, jawabannya tidak ada. Apa ini kebetulan?

“Dika titip surat, Kuntum.”

Ibu memberikanku surat—seperti biasa selepas dia pergi. Aku tersenyum.

Apa kabar? Itulah pertanyaan pertama yang ingin kuutarakan, Kuntum. Maaf, ini sudah memasuki enam tahun, bukan empat tahun. Aku tidak perlu menjelaskannya di sini, bukan? Mari kita bicarakan nanti, ketika kita sudah dengan bebas berbincang. Jika tidak ada yang mendatangi ayahmu selama itu, maukah menungguku kembali? Aku ingat kalimat ini. Sebenarnya, aku takut mendatangi rumahmu. Enam tahun bukanlah waktu yang singkat, Kuntum. Lalu, aku memberanikan diri bertanya pada ayahku. Dia memelukku dan mengucapkan “Allah ridha denganmu, Dika. Temuilah ayahnya lagi.”
 Pertama, aku tidak menyangka jika orang itu adalah dirimu. Pertemuan kita sebelum ini, aku tidak menyebutnya kebetulan. Tetapi, itu adalah takdir. Kedua, akankah kita bertemu lagi?Jawabannya Ya. Aku kembali, walaupun terlambat dan terimakasih telah menungguku, Kuntum. Ketiga, esok lusa InsyaAllah akan kudatangi ayahmu bersama keluargaku, Kuntum. Terakhir, apakah ini juga kebetulan? Sekali lagi, aku tidak menyebut ini kebetulan. Tetapi, takdir.

Aku melipat surat itu dengan baik. Perlahan, hatiku menghangat.
Selalu, pertanyaan terbesar di otakku selama ini “Akankah bertemu lagi?”. Dan... kutemukan jawabannya dalam doaku.

Terimakasih telah kembali Kuntum.

###

No comments:

Post a Comment