Pages

August 17, 2016

[Review] Di Tanah Lada #ZiggyZ



Judul : Di Tanah Lada
Pengarang : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Tahun terbit : Oktober 2015
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman : 244 halaman
Sinopsis 

Namanya Salva. Panggilannya Ava. Namun papanya memanggil dia Saliva atau ludah karena menganggapnya tidak berguna. Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal. Kakek Kia, ayahnya papa, pernah memberi Ava kamus sebagai hadiah ulang tahun yang ketiga. Sejak itu Ava menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia. Sayangnya, kebanyakan orang dewasa lebih menganggap penting anak yang pintar berbahasa inggris. Setelah pindah ke Rusun Nero, Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P. Iya, namanya hanya terdiri dari satu huruf P. Dari pertemuan itulah, petualangan Ava dan P bermula sampai pada akhir yang menakjubkan.
Saya tidak tau, apakah tulisan ini berujung pada sebuah review atau sejenisnya. Tetapi, saya berharap setidaknya saya ingin memperkenalkan buku ini pada banyak orang. Saya menemukan beberapa teman-teman di goodreads memasukkan buku ini ke dalam rak want-to-read atau saya mendapati mereka currently-reading this book. Saya akui, saya tidak tertarik membacanya, karena berhubungan dengan ‘anak kecil’ yang dalam mindset saya bercerita tentang dongeng-dongeng klasik. Tetapi, kenapa saya memutuskan untuk membacanya? Secara tidak sengaja, ketika scroll daftar buku di Ijak, I found it. Di sana, ratingnya cukup tinggi, lalu saya baca review pembaca di goodreads, dan mereka juga memberikan respon positif. Akhirnya, saya memutuskan untuk meminjamnya di Ijak. 
Saya takjub dengan penulis buku ini. Kenapa? Entah bagaimana ia mampu menulis hingga saya merasa yang bercerita itu memang anak berusia 6 tahun. Pada bagian awal saya sudah tertawa sendiri karena kepolosan anak yang bernama Ava. Saat berusia tiga tahun, Kakek Kia—ayahnya papa Ava memberikannya kamus Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, setiap Ava menemukan kata-kata yang tidak dipahaminya, ia akan mencari di dalam kamus. Namun, bukan itu yang membuat saya tetap melanjutkan membacanya, melainkan karena prilaku papa Ava yang tidak menganggap ia anaknya dengan baik, bahkan seringkali memukulinya tanpa sebab. Di sini, penulis dengan sudut pandang Ava bercerita betapa tidak-sukanya ia dengan papanya. 

Awal kisah gadis kecil itu bermula saat Kakek Kia meninggal dan meninggalkan harta kepada anaknya. Lalu, Ava, mama, dan papanya memutuskan untuk pindah ke Rusun Nero. Di sanalah ia bertemu dengan anak laki-laki berumur 10 tahun bernama P. Jujur, saat saya tau siapa nama anak laki-laki itu, kening saya berkerut. Only P?  Ya, namanya P. Namun Kak Suri—orang yang mengajari laki-laki itu bahasa inggris memanggilnya Prince, dan begitu juga Om Alri (silahkan dibaca siapa itu om Alri? ^^). Namun, Ava tidak ingin memanggilnya Prince. Ava memanggil laki-laki itu dengan sebutan Pepper yang berarti lada, sedangkan ia menginginkan dipanggil Salt yang berarti garam. Filosofi sederhananya bahwa jika makan tanpa lada hanya dengan garam, tidak masalah, tetapi akan lebih baik makan dengan garam, karena akan terasa lebih enak. Kapan petualangan mereka dimulai? Saat suatu insiden menimpa Pepper yang menyebabkan mereka pergi, ingin bahagia dengan cara mereka sendiri.  
Miris sebenarnya, ketika anak yang berusia sangat dini harus mengalami hal-hal mengerikan semacam itu. Seharusnya di usia itu, mereka dapat bermain sesuka hati, melakukan banyak hal yang menyenangkan, tanpa berpikir lebih banyak. Tetapi Ava dan P tidak begitu. Saya rasa pengaruh lingkungan keluarga menghadapkan mereka untuk berpikir tidak seusianya. Bayangkan di usia yang sangat dini, mereka telah melahirkan pemikiran yang skeptis atas apa yang mereka ketahui. Mereka menganggap bahwa di dunia ini, semua papa jahat, semua mama lupa dengan anaknya. Mereka selalu berbicara tentang reinkarnasi, menginginkan hidup di masa lalu yang lebih baik, atau bahagia di masa mendatang.
Seandainya ending yang disajikan penulis tidak seperti ini, setidaknya ada sesuatu yang membuat mereka bahagia setelah semua yang terjadi. Bagaimanapun, mereka juga berhak untuk bahagia. Tetapi, sekali lagi—ini hanyalah fiksi, dimana penulis berhak atas cerita yang ia tulis. Meskipun begitu, saya memaklumi kenapa mereka berdua memutuskan akhir hidup mereka seperti itu. Mungkin, mereka sudah terlalu lelah. Ah, buku ini sangat kelam, sungguh.

Pada bagian akhir tentang sehidup semati, saya merasa tiba-tiba bukan Ava lah yang bercerita. Tadinya saya berpikir tulisan di akhir bab ketika Ava berusia remaja, karena gaya penuturannya sudah berbeda. Ternyata, tidak. Gadis itu masih berusia 6 tahun. Tiba-tiba di akhir buku seorang Ava disulap menjadi gadis berusia 17 tahun. Ah, saya sedikit bingung. Seharusnya, jika mereka tetap anak-anak, hingga akhirpun tetap harus disudahi bahwa mereka hanyalah anak-anak.
Tidak banyak yang ingin saya ceritakan pada tulisan kali ini, tetapi sepertinya esok-esok akan saya baca karya Ziggy yang lain. Saya ingin sekali memberikan 5/5 bintang, tetapi ada sesuatu yang menahan saya, sehingga saya memutuskan 4/5 bintang adalah cukup untuk buku ini. Anehnya, saya berterimakasih kepada penulis, karena di akhir liburan panjang ini saya mendapatkan sesuatu lagi.

No comments:

Post a Comment