Pages

August 14, 2016

[Jurnal] Selamat Datang di Dunia Sunyi



Selamat datang di dunia sunyi.

Saya tidak menyebut tulisan ini adalah sebuah esai atau semacamnya, mungkin dapat disebut sebuah reka ulang apa yang terjadi sehari lalu. Saya tidak menduga akan bergabung di sebuah forum yang di dalamnya hadir orang-orang luar biasa, berkecimpung dengan dunia tulis. Perasaan ini sama ketika saya menemukan teman-teman di goodreads yang juga ‘maniak’ terhadap buku. Kurang lebih seperti itulah rasanya. Bayangkan tiba-tiba berada di sekitar orang-orang yang mencintai dunia tulis. Bagaimana rasanya? Ah, tentunya senang dan campur aduk, rasa-rasanya ingin meningkatkan kemampuan lebih besar lagi. Harapan saya, insyaAllah tempat itu akan menjadi keluarga baru bagi saya kelak. 
‘Selamat datang di dunia sunyi’. Ah, saya tidak tahu bagaimana statement sederhana itu mampu membuat saya harus mengucapkan kalimat itu berkali-kali kala itu. Alhasil, saya memang merasa di dunia yang sunyi. Menulis takkan bisa dilakukan saat suasana sekitar hiruk pikuk, atau ketenangan dan kedamaian yang tidak didapatkan. Sejujurnya, seringkali saya menulis saat semua orang di rumah telah terlelap, atau jika hasrat menulis dalam keadaan di puncaknya, saya akan menyediakan headset untuk meredam semua suara di sekitar. Meskipun begitu, saya cenderung menyukai suasana saat tengah malam, karena sunyi yang hadir lebih terasa bagi saya. Kadangkala orang-orang salah beranggapan, bahwa seseorang yang menyukai sunyi adalah orang yang penyendiri. Menurut saya, hal itu adalah sebuah kesalahan persepsi. Kesunyian seringkali membuat mereka dapat berpikir lebih jernih, lebih terarah, dan lebih siap menghadapi apa yang seharusnya dilakukan. Atau kadangkala mereka yang menyukai sunyi karena hanya ingin merefleksikan diri, sehingga dirinya lebih tenang dari sebelumnya.

‘Ikatlah ilmu dengan menuliskannya’. Saya tidak ingat dimana pertama kali mendengar kalimat ini, kalau tidak salah ini merupakan kalimat yang diucapkan Ali Bin Abi Thalib ra. Saat pertama kali mendengar kalimat ini, entah di buku atau di sebuah forum lainnya, tiba-tiba saya menemukan alasan kenapa saya menulis. Jika orang-orang seringkali mengabadikan momen melalui kilas foto, tetapi saya mengabadikannya melalui kata. Seorang penulis pernah mengatakan “...sebab kata lebih dalam dari keliatannya”—Dodi Prananda. Saya senang menuliskan apapun yang terjadi dengan diri saya, menceritakannya melalui deretan kalimat, dan selanjutnya akan saya simpan tulisan itu bertahun-tahun lamanya. Suatu kali, tanpa disadari kalimat-kalimat itu akan dibaca lagi, entah rindu dengan masa lalu, atau membutuhkan kekuatan untuk terus berjuang. Termasuk ketika momen-momen penting, saya menuliskannya agar tidak lupa, serta sebagai penanda bahwa kebersamaan itu pernah terjadi. Tidak banyak yang bisa saya tuliskan selepas menghadiri kegiatan itu. Karena bagi saya, apa yang terjadi kemarin, insyAllah ilmunya  telah terserap dalam benak saya. Lalu, menceritakannya lebih detail apa yang terjadi saya tidak begitu lihai, mungkin akan tertulis ilmu-ilmu itu tanpa sengaja di tulisan selanjutnya. Saya lebih cenderung melakukan hal itu. Setiap cerita punya hubungan tersendiri.

“Jingga Kuning Luka”. Bagaimana rasanya ketika disuruh menulis tiba-tiba dengan mengembangkan tiga kata tersebut? Jujur, saya panik. Saya tidak tau apa yang mestinya ditulis, tulisan semacam apa yang harus ditulis, dan pertanyaan paling penting apa yang akan terjadi setelah tulisan ini lahir dalam waktu 5 menit? Kesalahan pertama yang saya lakukan, saya terlalu lama berpikir hingga waktu yang tersisa tak lagi cukup menuliskan banyak hal. Kesalahan kedua, saya terlalu mementingkan pandangan orang lain akan tulisan yang nantinya saya ciptakan. Kesalahan ketiga, saya belum mampu melepaskan semua yang saya rasakan melalui tulisan. Alhasil, saya hanya dapat menuliskan tulisan semacam ini.

Namaku Jingga,
Kau tahu, tanpa kusadari seringkali senja seakan terlihat berwarna kuning kemerahan
Apa aku salah? Apa aku keliru? Atau matakah yang selalu keliru mengartikan banyak hal?
Entahlah.
Apa itu benar adanya? Bahwa kuning yang terlihat di penghujung hari adalah senja yang kan mengakhiri kisah kita?
Atau...corak klise yang kan mengingatkan luka yang tercipta?

Saya ingat Putu Wijaya pernah menyampaikan pesan saat saya mengikuti Jambore Sastra kurang lebih lima tahun silam. Tulisanlah, jangan dipikirkan. Saat kau hendak menulis, tulislah apa saja, jangan dipikirkan. Karena ketika kau berpikir, mempertimbangkan pantas tidaknya tulisan yang dibuat, maka tidak akan pernah jadi tulisan itu. Beliau juga menjelaskan, ketika kau tidak ingin menulis, maka menulislah terus. Namun jika kau sangat ingin menulis, serasa semangat membara, maka berhentilah menulis, karena ketika semangat itu hilang, maka kau tidak ingin menulis lagi. Memang benar, ketika menulis apa adanya tanpa berpikir lebih lama, tulisan yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan berpikir ‘apa yang seharusnya’. Saya pernah mencobanya, dan ketika saya berpikir dengan baik, hanya satu paragraf yang dihasilkan. Ahmad Rifa’i Rif’an menyebutkan bahwa setelah menulis apa adanya, kan tulisan itu masih bisa diedit, ditata sedimikian baiknya, sehingga enak dibaca. Putu Wijaya juga menyarankan jika telah selesai menulis sebuah karya, maka endapkanlah beberapa hari, empat haripun cukup, lalu editlah. Karena mengedit ketika karya itu selesai di hari itu, akan berakhir sia-sia. Nah, sama seperti hari ini, saya menulis tanpa berpikir panjang. Tulislah dan sampaikanlah.  

Apalagi yang dapat saya tulis? Kiat-kiat menulis? Saya tertarik pada poin ‘jadikan menulis sebagai sarana ibadah’. Pernyataan itu yang melekat di benak saya mengenai kiat-kiat dalam menulis. Seringkali ada niat yang salah ketika menulis, ingin dipuji, ingin terkenal, dan banyak niat yang tak seharusnya tercipta. Astagfirullah. Sungguh, kadangkala memang terbesit perasaan semacam itu, tetapi Sang Kuasa menghukumnya dengan ketidakmampuan saya menghasilkan apapun. Jika perasaan itu menjalar tiba-tiba, saya hanya akan stuck di depan laptop, tanpa menulis kata apapun. Maka, setiap kali hendak menulis... saya berusaha meluruskan niat, meluruskan bahwa tujuan saya menulis adalah karena Rabb senang dengan rangkaian kata yang tercipta. Di samping itu, dengan perasaan itulah tulisan saya dapat terkontrol tentang ‘harus atau tidak harusnya’ kalimat itu saya tulis.

Lalu, apalagi? Bagaimana kalau membahas tentang sebab gagal dalam menulis? Vira Safitri dalam novelnya yang berjudul “A New York After The Rain” menjelaskan bahwa ada dua hal yang menjadikan tulisan itu diingat oleh pembaca, pertama kisah yang ada dalam tulisan pernah terjadi dengan si pembaca atau penulis memang pandai dalam menulis. Hal ini juga berlaku saat saya menerima pencerahan kemarin mengenai sebab gagal dalam menulis. Saya ingat, karena saya selalu mengalaminya yaitu ‘cepat merasa puas’. Ternyata perasaan itu dapat menjadi bumerang bagi saya. Sama seperti perasaan ketika niat yang kadang-kadang berubah jalur untuk menulis. Ketika saya menyelesaikan satu tulisan, saya cepat merasa puas dan cenderung hilang dalam peredaran untuk menulis. Namun, saya bersyukur perasaan itu hilang dengan cepat saat saya mengingat tujuan menulis, atau melihat pengalaman penulis-penulis produktif yang luar biasa. Saya yakin, tetap produktif menghasilkan karya tentunya karena perasaan yang tidak cepat puas dari diri mereka. Dibandingkan dengan mereka, tentunya saya masih sangat-sangat jauh. Bayangkan mereka dapat rendah hati meski telah sukses dengan karya-karyanya.

Apalagi yang harus saya ceritakan? Kalimat ini menyebabkan saya termenung cukup lama, “...karena setiap jawaban yang terjadi berasal dari masa lalu”. Saya tidak yakin semua orang mengingat kalimat ini kala itu. Ya memang benar. Apa yang terjadi di masa lalu memang cerminan apa yang terjadi di masa datang. Bahkan ketika seseorang melakukan kesalahan di masa lalu, maka cerminan yang tampak nantinya yaitu apakah kesalahan itu akan berlanjut, atau berubah menjadi sebuah penebusan? Tergantung. Maka dari itu, saya selalu percaya bahwa kesalahan takkan selalu menghantui bahkan berpuluh-puluh tahun kemudian, justru kesalahan adalah pengingat untuk tidak jatuh di lubang yang sama kedua kalinya. Bukankah begitu? Makna kalimat itu adalah ‘bagaimana orang itu bisa sukses? bagaimana orang itu bisa seperti itu.. dan ini?’ maka jawabannya, ‘tengoklah bagaimana masa lalu hingga mereka seperti sekarang ini’.

Penutup, saya masih belajar untuk menulis lebih baik lagi. Sepertinya hanya itu yang dapat saya kilas balik, tentang apa yang terjadi dan apa yang saya rasakan kemarin. Bagaimanapun, menulis selalu butuh proses yang panjang dan bahkan untuk menghasilkan sebuah karya yang baik butuh nafas yang sangat panjang. Oleh karena itu, saya berharap dapat menjalani semua proses itu, di sini, di rumah baru ini—Forum Lingkar Pena, insyaAllah. Saya tutup dengan kalimat yang ditulis oleh Annis Mata.

“Cinta memang harus berkembang jadi kata, sebab itu membuatnya nyata dan meyakinkan”

Selamat menulis. Selamat datang di dunia sunyi.
Salam Literasi!

No comments:

Post a Comment