Pages

August 28, 2016

[Bedah Buku] Not Scared of Test


Sepertinya tulisan ini akan terus berlanjut. Sebenarnya, saya ingin melakukan hal lain malam ini, tetapi entah karena apa saya menunda terlebih dahulu. Ah, bukan karena kemalasan yang menyerang, tetapi saya butuh penjernihan pikiran terlebih dahulu. Pagi tadi, saya telah bercerita tentang buku yang berjudul ‘Membangun Sekolah yang Dicintai Anak. Berhubung buku yang saya pinjam akan dikembalikan esok pagi, maka tulisan ini harus saya tuntaskan. Baiklah, mari kita kembali ke kisah selanjutnya. Sebelumnya, saya telah bercerita tentang betapa hal-hal sederhana lebih dihargai dan memiliki porsi yang jauh lebih baik. Cerita selanjutnya yaitu mengenai ‘Semua Bisa Cinta Olahraga’.
Saya ingat ketika semester tiga dahulu, salah seorang dosen pernah bercerita bagaimana sistem pendidikan di negeri Matahari Terbit. Hal menarik dari beberapa penuturan beliau adalah bahwa di sana, pembelajaran lebih difokuskan pada bidang olahraga. Awalnya, saya tidak memahami tujuan dari sistem tersebut. Umumnya siswa-siswa di sana lebih banyak menghabiskan waktu untuk olahraga dibandingkan menyelesaikan soal-soal aljabar berderet. Beliau menjelaskan bahwa sistem pembelajaran yang lebih menekankan kebugaran fisik bukanlah tanpa sebab, karena sejak dini mereka dilatih untuk menjaga kesegaran. Bagaimanapun, pernyataan ini benar bahwa ‘di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang cerdas’. Hal serupa juga terjadi di negeri Kangguru. Ternyata siswa-siswa di sini juga mendapatkan porsi pembelajaran olahraga yang seimbang dengan akademik. Bahkan setelah saya membaca kisahnya, dijelaskan bahwa setiap term terdapat satu bidang olahraga yang wajib dikuasai siswa. Misalnya, untuk semester ini siswa harus mampu berenang, maka olahraga wajib mereka adalah berenang, dan begitu seterusnya.

“Aktivitas fisik dalam olahraga berdampak positif terhadap perkembangan kognitif. Beberapa penelitian di San Diego State University tahun 2007 menyimpulkan bahwa aktivitas fisik anak di sekolah tidak menganggu prestasi akademik mereka. Sebaliknya, aktivitas fisik mampu meningkatkan konsentrasi belajar, nilai ujian, dan prestasi akademik lainnya. Nilai sportivitas dalam aktivitas fisik juga bisa memperbaiki prilaku anak di dalam kelas.” –halaman 29.

“Aktivitas fisik menyehatkan anak-anak. Berlari, berenang, dan kegiatan bermain lainnya mendukung proses pertumbuhan anak. Hal ini juga didukung dengan pembiasaan makan sehat oleh sekolah. Energi anak terkuras habis melalui permainan dan gerakan motorik lainnya. Dengan demikian, ketika sampai di rumah, mereka merasa kelelahan dan tidak memiliki energi untuk melakukan kegiatan lain seperti menonton televisi atau bermain video games. Intensitas gerakan fisik di sekolah juga bisa menguras tenaga anak remaja siswa SMP/SMA sehingga meminimalisir kegiatan negatif mereka di luar sekolah.” –halaman 31.
Selain menyeimbangkan antara kegiatan kognitif, afektif, dan psikomotor ternyata di Australia ada suatu kebiasaan yang semestinya ditiru, yaitu membawa bekal ke sekolah. Ternyata di sekolah dasar (SD) setiap siswa diwajibkan membawa bekal ke sekolah. Slogan mereka adalah ‘Tidak ada sampah, tidak ada kantin’. Ya, memang tidak ada satupun sampah yang berserakan serta kantin yang tidak tersedia. Setiap siswa yang membawa bekal, bungkusan plastiknya harus dibuka terlebih dahulu, sehingga hanya kotak makan yang mereka bawa. Bahkan ketika suatu hari ditemukan sampah di pekarangan sekolah, pihak sekolah dengan segera mengadakan rapat untuk memecahkan masalah yang terjadi. Bayangkan, hanya karena sampah mereka begitu gusar. Saya kembali ingat, bahwa hal-hal sederhana itu terkadang memang sangat berarti dalam membentuk karakter peserta didik.

Selain mengenai bekal makan siang yang diceritakan di sini, saya juga tertarik mengenai pembelajaran di sini. Saya berpikir ketika anak-anak duduk di bangku TK ataupun SD, mereka telah disuguhkan dengan materi-materi yang membebani mereka. Ternyata dugaan saya salah. Asumsi selama ini, ketika anak cepat pandai membaca, berhitung, dsb disebut sebagai anak yang pintar. Barangkali memang anak tersebut pintar, tetapi apabila dipaksakan mereka harus pandai membaca, menulis, dsb, maka kapanlagi waktu bagi mereka untuk bermain? Di sini, setiap guru mengajak anak belajar sambil bermain saat ketika TK maupun SD. Tidak ada buku seperti buku ajar, maupun LKS, yang ada hanyalah gambar ataupun benda-benda yang dapat mereka sentuh sebagai media pembelajaran.

“Australia tidak sendirian sebagai negara yang mengajarkan membaca pada anak di usia relatif ‘tua’. Kabarnya di Swedia dan Jerman, anak belajar membaca di usia 7 tahun, di Finlandia usia 8 tahun. Fakta beberapa negara yang memilih mengajar anak didiknya membaca di usia relatif ‘tua’ tentunya memiliki dasar yang kuat. Beberapa penelitian menunjukkan, tidak ada perbedaan berarti dari kemajuan belajar anak yang sudah bisa membaca di usia muda dengan mereka yang belajar membaca di usia yang lebih tua pada saat mereka sudah mencapai usia 10-12 tahun. Artinya, segera setelah anak-anak yang lebih tua ini bisa membaca, mereka akan dapat segera menyesuaikan diri dengan anak yang telah mahir membaca sejak dini. Di sisi lain, risiko memaksakan anak yang sesungguhnya belum siap membaca untuk belajar membaca di usia terlalu dini lebih berbahaya. Bahaya yang paling utama adalah kebosanan, kehilangan minat membaca sama sekali dan kurang bergairah di saat materi-materi di tingkat lanjut lebih banyak menggunakan bacaan sebagai sumber utama belajar.” –halaman 52.

‘My Dad is My Hero’. Judul cerita ini sebenarnya sangat mengusik saya pribadi. Saya menyadari kadangkala tingkat sosial mempengaruhi lingkungan, sosialisasi dan bahkan ruang lingkup pertemanan. Rata-rata kita melihat seperti itu, bahwa mereka yang berada harus berteman dengan yang setara. Sebenarnya prilaku semacam itu secara perlahan membunuh karakter baik yang seharusnya ada di dalam diri anak. Kadangkala kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan anak, lalu siapa yang akan disalahkan? Entahlah, mari kita renungkan sebagai pembelajaran. Kisah ini bercerita tentang pekerjaan setiap ayah di negeri Kangguru tersebut. Saya tidak tau kapan pastinya, tetapi dalam satu minggu itu anak-anak diberi kesempatan untuk story telling. Kebetulan tema minggu ini adalah ‘My Dad is My Hero’. Ketika membaca cerita ini, imajinasi saya berkeliaran dan seolah melihat bagaimana cara anak-anak itu menceritakan pekerjaan ayahnya. Ah, tahukah betapa bangganya mereka dengan ayahnya? Saya berpikir tadinya anak-anak tersebut akan bercerita mengenai ayahnya yang bekerja sebagai ‘direktur perusahaan’, ‘dokter’, atau pekerjaan-pekerjaan yang selama ini dipandang menjanjikan. Saya keliru, justru mereka menceritakan ayahnya yang bekerja sebagai ‘pengangkut sampah’, ‘tukang cuci piring di restoran’, ‘cleaning service’ dan pekerjaan-pekerjaan yang selama ini dipandang sebelah mata. Namun, anak-anak itu bercerita dengan binar bangga dan menganggap pekerjaan ayahnya adalah pekerjaan yang mulia.

“...beliau menjelaskan story telling hari itu yang dimaksudkan agar anak-anak dapat mengenal pekerjaan ayah mereka dan kontribusinya untuk masyarakat dan lingkungan. Diharapkan, anak-anak akan menghargai semua jenis pekerjaan bila dikerjakan dengan sungguh-sungguh pasti akan memberikan kontribusi untuk orang lain. Sehingga anak-anak akan merasa bangga terhadap ayah mereka dan lebih menghargai orang lain.” –halaman 67.

“Yang membuat saya takjub adalah apresiasi dari para guru dengan komentar-komentar mereka yang begitu supportif, menyejukkan, dan menyenangkan hati terhadap semua cerita yang dibawakan anak-anak itu, sehingga kebanggaan anak-anak terhadap ayah mereka dan pekerjaannya semakin besar. Bahkan tidak sekali pun terdengar cemoohan atau ejekan dari anak-anak ketika temannya bercerita” – halaman 70.

“Saya merasa tersentil atas pandangan saya yang terkadang memandang sebelah mata pada pekerjaan seseorang. Apa yang saya lihat tadi membuat saya sadar bahwa apapun pekerjaan seseorang, sekecil apa pun akan menjadi besar dan membanggakan jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, karena pasti dapat memberikan kontribusi untuk orang lain.” –halaman 71.

Apa pembelajaran yang menginspirasi dari kisah ini? Saya berbicara tentang kontribusi. Terkadang kita memandang sebelah mata, padahal pertanyaan terbesar untuk kita sendiri, ‘sudahkah melakukan hal yang lebih bermakna selama ini?’ Bayangkan tanpa adanya ‘mereka’ yang melakukan pekerjaan ‘kasar’ tidak akan bersih lingkungan di sekitar, tidak akan bersih gedung-gedung perusahaan yang mewah, dan banyak kontribusi yang telah mereka lakukan untuk melengkapi segala kenyamanan hidup. Ah, saya selalu mengingat dengan baik bahwa di dunia ini manusia-saling-membutuhkan. Tidak ada yang dapat berdiri sendiri, bahkan konglomerat sekalipun. Nah, jadi apa pekerjaan ayah kalian? Bagaimanapun berbanggalah, semua sama di mata Tuhan, bukankah begitu? Jujur, saya sangat menyarankan teman-teman untuk membaca pada bagian ‘kebanggan pekerjaan ayah’. Entahlah, menurut saya membaca buku ini perlahan dapat mengubah mind set kita selama ini. 
Apalagi yang dapat saya ceritakan di sini? Ada kisah tentang sistem penerimaan siswa baru yang sangat-sangat berbeda di Indonesia. Lalu juga ada cerita tentang ‘seni dalam mengajar’ yang menurut saya cukup menjadi perenungan ke depannya. Apalagi? Di buku ini juga bercerita tentang esensi dari belajar sesungguhnya atas salah kaprah yang mendominasi hingga saat ini. Menariknya seperti ini: Belajar atau Menghafal? Lalu tentang ‘Ujian Sekolah’ yang tidak pernah menjadi beban bagi siswa-siswa, karena mereka mengetahui bahwa ujian bukanlah penilaian dari belajar yang sebenarnya. Mereka senang belajar, dan juga tidak takut dengan ujian. Bayangkan? Di buku ini juga membahas mengenai ‘Sekolah Favorit’, ‘Kelas Unggul’ dan segala hal yang menyebabkan adanya pembeda antara siswa-pintar dan siswa-kurang-pintar. 
Penutup, saya akhiri dengan sebuah kalimat yang di sampaikan oleh salah seorang guru: “Kalian jangan merasa harus bersaing dengan siswa lain di sini untuk mendapat nilai A+ sebanyak-banyaknya. Yang harus kalian lakukan adalah bersainglah dengan diri sendiri. Jangan merasa harus mendapat nilai yang lebih tinggi dari siswa yang lain; akan tetapi capailah nilai yang lebih tinggi dari nilai yang pernah kalian raih sebelumnya. Itu yang terpenting!” –halaman 134.

No comments:

Post a Comment